Istanbul (KABARIN) - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menepis pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut 32.000 warga sipil tewas dalam aksi-aksi protes di Iran.
Araghchi menegaskan pemerintah Iran telah merilis data resmi dan meminta pihak yang mengklaim angka lebih tinggi untuk menunjukkan bukti pendukung.
“Iran telah mengungkapkan secara transparan daftar resmi yang mendokumentasikan 3.117 orang, termasuk sekitar 200 personel keamanan, yang menjadi korban dari operasi teroris baru-baru ini,” ujarnya melalui platform X.
Ia menambahkan, jika ada pihak yang meragukan akurasi data tersebut, diminta untuk menyampaikan bukti yang dimiliki.
Sehari sebelumnya, Trump menyatakan bahwa 32.000 orang tewas di Iran dalam “periode waktu yang relatif singkat”.
“Rakyat Iran sangat berbeda dengan para pemimpin Iran, dan ini situasi yang sangat, sangat, sangat menyedihkan,” kata Trump.
Perbedaan tajam dalam data korban tersebut semakin memperkeruh hubungan antara Teheran dan Washington yang memang telah lama tegang.
Pada hari yang sama, Trump juga mengaku tengah “mempertimbangkan” serangan militer terbatas untuk menekan Iran agar menyepakati kesepakatan nuklir baru, meski tidak merinci langkah yang dimaksud.
Dalam pertemuan Dewan Perdamaian di Washington, ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan memilih opsi militer dalam 10 hingga 15 hari jika perundingan gagal.
Perundingan Nuklir dan Ketegangan Kawasan
Iran dan AS diketahui kembali melanjutkan pembicaraan nuklir awal bulan ini di Muscat, Oman. Putaran lanjutan kemudian digelar di Jenewa dengan mediasi Oman.
Upaya diplomatik tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, termasuk pengerahan militer AS di Teluk Persia dan latihan militer yang dilakukan Iran.
Perbedaan klaim angka korban, ancaman opsi militer, serta dinamika perundingan nuklir menambah kompleksitas hubungan kedua negara, yang masih dibayangi ketidakpercayaan mendalam di tengah situasi geopolitik yang sensitif.
Editor: Suryanto
Copyright © KABARIN 2026