Jakarta (KABARIN) - Aktor Timothée Chalamet tetap menatap masa depan film layar lebar dengan optimistis meski persaingan layanan streaming semakin ketat.
Ia mengaku berada di posisi tengah antara mendukung film yang dirilis di bioskop dan tetap realistis dengan tren selera penonton saat ini.
“Saya tidak ingin bekerja di balet atau opera yang seperti, ‘Hei, jaga benda ini tetap hidup, meskipun tidak ada yang peduli lagi’,” ujar Timothée dilansir dari Cinemablend pada Senin di Jakarta.
Timothée menyadari banyak orang ingin hiburan yang cepat dan instan, tapi ia tetap percaya penonton akan datang ke bioskop secara sukarela jika sebuah film benar-benar berhasil mencuri perhatian.
“Jika orang ingin melihatnya, mereka akan melihatnya dan berusaha keras serta bangga tentang hal itu,” kata Timothée.
Artikel tentang generasi Z menyebut kelompok ini lebih sering terdorong menonton film di bioskop dibanding generasi milenial.
Keberhasilan komersial film “Marty Supreme” (2025) yang dibintangi Timothée juga memperkuat pandangan bahwa industri layar lebar masih menarik bagi penonton masa kini. Film produksi A24 itu mencetak rekor pembukaan domestik sebesar 28,3 juta dolar AS dan menjadi film terlaris studio dengan pendapatan 157 juta dolar AS di seluruh dunia.
Data ini menunjukkan penonton masih bersedia meluangkan waktu untuk menonton film berkualitas di bioskop.
Timothée juga menyinggung fenomena Barbenheimer sebagai contoh kekuatan film layar lebar. Film-film tersebut sukses meraih total pendapatan 536 juta dolar AS pada 2023, dan tingginya permintaan tiket memaksa jaringan bioskop AMC Stubs menambah jadwal penayangan siang hari.
Dari pengalaman itu, Timothée semakin yakin bahwa film berkualitas tidak perlu susah payah meyakinkan publik untuk datang ke bioskop.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026