News

Akademisi Usul Kampus Buka Posko Mudik Ramah Anak saat Lebaran

Jakarta (KABARIN) - Ketua Umum Asosiasi Akademisi Pendidikan Tinggi Seluruh Indonesia (ASADIKTISI) Susanto mengusulkan agar posko mudik ramah anak disediakan selama musim mudik Lebaran. Menurutnya, perguruan tinggi bisa ikut berperan dengan menyediakan fasilitas tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Susanto menjelaskan bahwa posko mudik berbasis kampus ini bisa menyediakan berbagai layanan yang mendukung kenyamanan anak selama perjalanan. Fasilitas tersebut antara lain area bermain anak untuk beristirahat sejenak, pojok literasi anak yang menyenangkan, hingga layanan pemeriksaan kesehatan bagi anak.

Selain itu, posko juga bisa menyediakan layanan psikologis jika dibutuhkan, pengecekan kendaraan ringan untuk memastikan perjalanan keluarga tetap aman, serta berbagai layanan lain yang mendukung kebutuhan anak selama mudik.

"Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, serta partisipasi aktif mahasiswa, mudik dapat menjadi momentum mobilitas nasional yang aman, produktif, dan berdampak positif bagi pembangunan Indonesia," kata Susanto di Jakarta, Jumat.

Tidak hanya menyediakan posko mudik, Susanto menilai perguruan tinggi juga dapat mengambil peran melalui kampanye keselamatan berkendara kepada masyarakat. Kampanye ini bisa menyasar pengemudi transportasi umum hingga komunitas pengguna jalan.

"Melalui kegiatan penyuluhan di masyarakat, kampus dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya perencanaan perjalanan, keselamatan jalan, serta penggunaan transportasi umum," ujar Susanto.

Selain itu, kampus juga bisa menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah, operator transportasi, hingga komunitas masyarakat untuk meningkatkan kualitas pelayanan transportasi selama periode mudik Lebaran.

Susanto menilai tradisi mudik memiliki nilai sosial yang sangat kuat bagi masyarakat Indonesia. Namun di sisi lain, tingginya mobilitas saat mudik juga menjadi tantangan besar bagi sistem transportasi nasional.

Data Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa pada periode Angkutan Lebaran 2025, jumlah masyarakat yang melakukan perjalanan mencapai sekitar 154,6 juta orang atau sekitar 54,89 persen dari total populasi Indonesia.

Pergerakan tersebut bahkan menghasilkan lebih dari 358 juta perjalanan nasional selama periode mudik hingga arus balik. Angka ini menunjukkan bahwa mudik bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi sudah menjadi fenomena mobilitas nasional yang membutuhkan pengelolaan transportasi secara matang dan terkoordinasi.

Untuk tahun ini, puncak arus mudik diperkirakan terjadi dalam dua gelombang, yaitu pada 14-15 Maret serta 18-19 Maret. Sementara itu, puncak arus balik diprediksi berlangsung pada 24-25 Maret serta 28-29 Maret.

"Dengan skala mobilitas yang sangat besar tersebut, mudik seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kegiatan tahunan, tetapi sebagai momentum pembangunan transportasi dan literasi keselamatan nasional," ungkap Susanto.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: