Jakarta (KABARIN) - Di tengah pesatnya perkembangan industri esports nasional, nama Glorya Famiela menjadi salah satu figur penting di balik layar yang turut mendorong lahirnya prestasi atlet-atlet Indonesia di kancah internasional.
Perempuan berusia 37 tahun itu telah menekuni industri game dan esports selama lebih dari 15 tahun. Berawal dari hobi bermain game sejak masa sekolah, Glorya kemudian membawa ketertarikannya ke jenjang yang lebih serius saat kuliah.
Meski memiliki latar belakang pendidikan arsitektur dan sempat bekerja di bidang tersebut, ia memutuskan beralih karir karena merasa passion-nya berada di dunia gaming.
Langkah awalnya di industri dimulai dari perusahaan penyedia voucher game Lyto, kemudian melanjutkan karir di sektor pembayaran digital game Indomog.
Dalam kurun waktu hampir tujuh tahun, ia memperdalam pemahaman tentang ekosistem industri, mulai dari sisi bisnis hingga kebutuhan komunitas pemain.
Karirnya berlanjut ke media esports, yakni GGWP dan Dunia Games, yang semakin memperluas jejaring serta pengalamannya di industri.
Bergabung dengan Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI), Glorya juga terlibat dalam pengembangan ekosistem esports nasional sejak tahap awal, termasuk dalam pembentukan liga dan struktur kompetisi bersama sejumlah pelaku industri.
Hingga kini, ia masih aktif di bidang kompetisi, yang menjadi salah satu fondasi penting dalam pembinaan atlet esports.
Dalam perjalanannya, Glorya tidak menampik adanya tantangan sebagai perempuan di industri yang masih didominasi laki-laki.
Ia mengaku sempat menghadapi situasi ketika orang lain meragukan kemampuannya dalam urusan teknis, terutama saat berkecimpung di bidang kompetisi yang mayoritas diisi oleh laki-laki.
Meski demikian, ia menilai tantangan tersebut dapat dihadapi dengan konsistensi dan pembuktian melalui hasil kerja.
"Kita harus bisa menunjukkan lewat kerja nyata dan hasil bahwa kita mampu," ujar Gloria.
Kepercayaan besar datang ketika ia ditunjuk sebagai manajer tim nasional esports Indonesia untuk kejuaraan dunia IESF World Esports Championship 2023 di Rumania.
Peran tersebut menuntut kemampuan manajerial yang tidak ringan, mulai dari mengoordinasikan atlet dengan latar belakang berbeda hingga menangani dinamika tim selama persiapan dan kompetisi.
Ia juga harus beradaptasi dengan beban kerja serta tanggung jawab yang tinggi untuk memastikan seluruh kebutuhan tim terpenuhi.
"Sebagai manajer, kita harus bisa mengelola banyak hal sekaligus, dari kebutuhan atlet sampai dinamika tim yang beragam," kata perempuan kelahiran Jakarta itu.
Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah saat tim nasional menjalani pemusatan latihan atau pelatnas dalam waktu panjang hingga tujuh bulan untuk SEA Games 2025 Thailand.
Proses tersebut tidak hanya memperkuat kesiapan tim secara teknis, tetapi juga membangun kedekatan emosional antaranggota.
Hasilnya, seluruh atlet dari masing-masing nomor pertandingan yang diikuti timnas esports Indonesia berhasil membawa pulang medali dalam ajang multievent Asia Tenggara tersebut.
Bagi Glorya, capaian tersebut menjadi momen yang tidak terlupakan karena mencerminkan kerja keras dan kebersamaan tim selama proses panjang yang dilalui.
Momentum Hari Kartini menjadi refleksi bagi Glorya atas peran perempuan di industri esports yang terus berkembang.
Ia menilai peluang bagi perempuan kini semakin terbuka, tidak hanya sebagai atlet, tetapi juga di berbagai bidang lain, seperti manajemen, pemasaran, penyelenggaraan turnamen, hingga tata kelola organisasi.
Ia pun mendorong generasi muda, khususnya perempuan, untuk tidak ragu terjun ke industri esports. Menurutnya, kunci utama adalah menemukan peran yang sesuai dengan minat dan kemampuan, serta terus mengembangkan keterampilan.
"Yang pertama, jangan takut mulai karena industri esports sekarang lagi hot-hot-nya banget," kata Glroya.
"Cari role yang paling sesuai dengan passion kamu, terus kita harus bangun skill di situ."
Semangat yang dibawa Glorya sejalan dengan nilai-nilai perjuangan Raden Ajeng Kartini yang masih sangat relevan hingga saat ini.
Di tengah era digital, ia menjadi salah satu contoh yang menginspirasi bahwa perempuan mampu mengambil peran strategis dan berkontribusi nyata dalam industri yang terus berkembang.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026