Jakarta (KABARIN) - Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur mengusulkan area kolong Tol Becakayu dimanfaatkan sebagai sentra kuliner dan wisata edukatif berbasis pertanian lokal dalam rangka mendorong pemanfaatan ruang-ruang perkotaan.
"Jadi, ruang yang belum optimal menjadi pusat ekonomi kreatif dan destinasi wisata baru berbasis masyarakat. Salah satu yang mencuat adalah rencana pengembangan kawasan kolong Tol Becakayu menjadi sentra kuliner dan wisata edukatif berbasis pertanian lokal," kata Wali Kota Jakarta Timur Munjirin dalam pembukaan kegiatan bimbingan teknis pengembangan ekonomi kreatif tahun 2026 di Jakarta Timur, Selasa.
Usulan tersebut, kata dia, muncul setelah melakukan kunjungan studi banding ke wilayah Batu, Malang, dan Surabaya, Jawa Timur. Dari kunjungan tersebut, dia mengaku melihat potensi besar pengembangan ekonomi berbasis pengalaman (experience economy) yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) secara langsung.
Menurut Munjirin, konsep sederhana di daerah wisata pedesaan yang memanfaatkan suasana alam dapat diadaptasi di Jakarta Timur. Dia pun menilai ruang-ruang kosong di bawah infrastruktur, seperti kolong tol memiliki potensi besar apabila dikemas secara kreatif.
"Kita lihat di sana ada warung sederhana di pinggir sawah, tapi ramai. Konsep seperti itu bisa kita bawa ke Jakarta Timur," ujar Munjirin.
Selain itu, kolong Tol Becakayu juga dinilai cukup luas dan dekat dengan potensi pertanian warga. Area tersebut diyakini dapat dikembangkan menjadi ruang publik produktif yang tidak hanya berfungsi sebagai lahan kosong, tetapi juga pusat kegiatan ekonomi masyarakat.
Munjirin menyebutkan konsep itu dapat dikolaborasikan dengan pelaku Jakpreneur, terutama yang bergerak dalam sektor kuliner dan pertanian urban, sehingga produk hasil pertanian lokal dapat langsung dipasarkan sekaligus diolah di lokasi, dan menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih hidup.
Dia juga mengusulkan konsep wisata kuliner interaktif (self cooking), yaitu pengunjung dapat memilih bahan makanan langsung dari kebun mini atau tanaman yang tersedia, kemudian mengolahnya sendiri di tempat yang telah disediakan.
"Ini bukan hanya soal makan, tapi pengalaman. Pengunjung bisa ambil bahan sendiri, masak sendiri, dan itu menjadi daya tarik," tutur Munjirin.
Selain kolong tol, dia juga menyoroti potensi pengembangan pasar tradisional sebagai destinasi wisata belanja. Dia membayangkan penerapan sistem kunjungan terjadwal bagi wisatawan untuk masuk ke pasar, berinteraksi dengan pedagang, dan membeli produk lokal secara langsung.
Konsep tersebut, menurut Munjirin, tidak hanya meningkatkan pendapatan pedagang, tetapi juga mengangkat citra pasar tradisional sebagai bagian dari pengalaman wisata kota.
Dalam pengembangan konsep tersebut, Pemkot Jakarta Timur mendorong pembentukan wadah terpadu bagi pelaku UMKM dan Jakpreneur agar terintegrasi dalam satu sistem promosi dan distribusi.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Timur Yayang Kustiawan mengungkapkan gagasan intersebuti akan dikaji lebih lanjut untuk memastikan kesiapan infrastruktur, pelibatan pelaku usaha, serta dampak ekonominya bagi masyarakat.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026