Ekonom Sebut Rupiah Melemah Bisa Picu Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Pakar ekonomi dari Universitas Hasanuddin, Profesor Hamid Paddu, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi besar mendorong kenaikan harga BBM nonsubsidi di Indonesia.

Menurut Hamid, kondisi ini sulit dihindari karena Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Pada pertengahan Mei 2026, kurs rupiah diketahui terus melemah hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS. Bahkan pada penutupan perdagangan Kamis 14 Mei, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.529 per dolar AS.

Hamid menjelaskan bahwa kebutuhan minyak dalam negeri mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi nasional hanya sekitar 650 ribu barel per hari. Artinya, lebih dari separuh kebutuhan energi masih harus dipenuhi lewat impor.

“Impor tentu dibeli dengan nilai mata uang, valuta asing, dalam hal ini dolar AS. Makanya, nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM,” ujarnya di Jakarta, Sabtu.

Ia juga menyoroti bahwa kondisi saat ini sudah melampaui asumsi yang dipakai dalam APBN 2026. Nilai tukar rupiah yang diasumsikan Rp16.500 per dolar AS kini jauh lebih lemah, sementara harga minyak dunia juga melonjak hingga sekitar 105 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi pemerintah sebesar 70 dolar AS per barel.

“Berarti untuk impor, beban energi minyak sudah kena dua kali. Pertama kena dari harga minyak dunia kemudian dari kurs,” kata Hamid.

Karena itu, ia menilai sangat mungkin badan usaha termasuk Pertamina akan kembali menyesuaikan harga BBM nonsubsidi mengikuti kondisi pasar.

Menurutnya, mekanisme penyesuaian harga sebenarnya sudah berjalan dalam beberapa tahun terakhir sehingga perubahan harga BBM nonsubsidi bukan hal baru bagi masyarakat.

“Itu otomatis, karena ini kan market. Sejak lima tahun lalu, badan usaha swasta dan Pertamina selalu menyesuaikan harga BBM Non Subsidi dengan harga pasar. Jadi begitu bahan bakunya naik, dia harus menaikkan BBM,” ujarnya.

Hamid menambahkan, apabila harga tidak disesuaikan, beban finansial perusahaan energi bisa menjadi sangat berat karena biaya impor minyak terus meningkat akibat dolar yang mahal.

Ia juga menilai masyarakat kini sudah lebih memahami mekanisme harga energi, sehingga perubahan harga BBM nonsubsidi biasanya tidak lagi memicu gejolak besar.

“Kalau naik harga bahan bakunya, BBM-nya juga naik,” katanya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka