Money

Warga AS Makin Tercekik, Harga Makanan hingga Sewa Melonjak

Los Angeles (KABARIN) - Warga Amerika Serikat (AS) kini harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli bahan makanan, bensin, dan kebutuhan sehari-hari lainnya di tengah inflasi yang kembali meningkat. Para ekonom pun semakin berpendapat bahwa konflik geopolitik dan gangguan pasokan energi menjadi pemicu utama kenaikan biaya hidup.

Data terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of Labor Statistics/BLS) AS menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK), indikator utama inflasi, naik 3,8 persen dalam periode 12 bulan yang berakhir pada April, laju tahunan tercepat sejak tahun 2023.

Inflasi bulanan meningkat 0,6 persen pada April, sementara harga nergi melonjak tajam dan harga-harga bahan makanan terus merangkak naik, menyebabkan ketidakpuasan konsumen.

"Sekarang semua jadi lebih mahal," kata Maxi Baker, warga Glendale, kepada Xinhua, mencerminkan kekhawatiran konsumen yang kian meningkat atas kenaikan harga yang melanda hampir semua barang. "Makanan, bensin, pakaian, uang sewa, semuanya naik," ujar ibu dua orang anak itu.

Para ekonom menilai salah satu kontributor terbesar inflasi adalah melonjaknya biaya energi yang terkait dengan konflik di Timur Tengah dan gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, salah satu koridor energi terpenting di dunia.

Indeks energi meningkat 17,9 persen dalam periode 12 bulan yang berakhir pada April, sementara harga bensin melonjak 28,4 persen, urai BLS, seraya menambahkan bahwa komoditas energi menyumbang lebih dari 40 persen kenaikan inflasi bulanan pada April.

Menurut American Automobile Association, harga bensin rata-rata secara nasional telah naik di atas 4,50 dolar AS (1 dolar AS = Rp17.685) per galon.

Kenaikan harga bahan bakar berdampak luas pada perekonomian mengingat biaya transportasi memengaruhi hampir setiap produk konsumen, mulai dari bahan makanan hingga pengiriman barang dan perjalanan udara.

Para ekonom telah lama berpendapat bahwa inflasi energi bertindak seperti pajak bagi konsumen. Ketika biaya transportasi barang naik, supermarket dan pengecer pun kerap meneruskan kenaikan tersebut kepada pelanggan.

Harga pangan juga telah menjadi titik tekanan.

BLS melaporkan indeks makanan rumah tangga, yang mengukur inflasi untuk bahan makanan, naik 0,7 persen pada April saja. Daging sapi, kopi, buah-buahan, dan sayuran mencatat kenaikan yang cukup signifikan, menurut analisis inflasi.

Bagi rumah tangga berpenghasilan rendah dan menengah, belanja bahan makanan menghabiskan sebagian besar pendapatan mereka, sehingga kenaikan kecil sekalipun dapat secara signifikan mengubah anggaran dan memangkas belanja rutin keluarga.

Sementara itu, biaya tempat tinggal, komponen inflasi utama lainnya, terus meningkat. BLS menyebut bahwa indeks untuk sewa setara pemilik dan indeks untuk sewa sama-sama meningkat 0,5 persen pada April.

Hal yang paling mengkhawatirkan bagi konsumen saat ini mungkin adalah inflasi mulai bergerak melampaui pertumbuhan pendapatan.

Pendapatan rata-rata per jam riil untuk semua karyawan turun 0,5 persen dari Maret hingga April, dan turun 0,3 persen dibandingkan dengan April 2025, menurut BLS. Itu berarti daya beli menyusut meskipun ada kenaikan upah nominal.

Ketika upah gagal mengimbangi kenaikan harga, rumah tangga sering kali harus mengompensasinya dengan mengurangi pengeluaran yang kurang penting, meningkatkan penggunaan kartu kredit, atau menunda pembelian besar.

"Semua jadi lebih mahal. Uang saya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan. Entah bagaimana saya akan menutupi kekurangan ini," kata Denise Cohn, seorang karyawan toko retail di Los Angeles.

Pewarta: Xinhua
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: