Washington (KABARIN) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan “mengelola” Venezuela setelah militer AS melakukan operasi besar-besaran yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang kemudian diterbangkan ke New York.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam konferensi pers di klub pribadinya, Mar-a-Lago, Florida, pada Sabtu (3/1).
“Kami akan mengelola negara itu sampai kami dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” ujar Trump. Ia menegaskan bahwa AS tidak ingin pihak lain masuk dan memperumit situasi yang menurutnya telah berlangsung bertahun-tahun.
Trump menambahkan, AS telah berada di Venezuela dan akan tetap berada di sana hingga proses transisi kekuasaan dinilai berjalan sesuai kepentingan Washington. Namun, ia tidak menyebutkan batas waktu yang jelas mengenai durasi transisi tersebut.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut sejumlah pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, akan terlibat langsung dalam tim yang menangani pengelolaan Venezuela selama masa transisi.
Trump juga tidak menutup kemungkinan keterlibatan militer lanjutan. “Kami tidak takut menurunkan pasukan ke lapangan,” katanya.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, yang menyebut pasukan AS tetap berada di kawasan tersebut dalam kondisi siaga tinggi.
“Saat ini, pasukan kami tetap berada di wilayah itu, siap memproyeksikan kekuatan, membela diri, dan melindungi kepentingan kami,” ujar Caine.
Meski demikian, Trump mengklaim kehadiran AS di Venezuela lebih difokuskan pada sektor energi. Ia mengatakan AS akan mengirimkan keahlian untuk mengelola sumber daya minyak Venezuela, sambil membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan minyak AS untuk berinvestasi dan mengambil alih infrastruktur energi.
Trump menegaskan bahwa embargo minyak Venezuela tetap diberlakukan sepenuhnya, sembari menambahkan bahwa AS mempertahankan seluruh opsi militer yang ada hingga tuntutannya terpenuhi.
“Kami akan mengambil kekayaan besar dari dalam tanah. Kekayaan itu akan diberikan kepada rakyat Venezuela dan juga dikirim ke AS sebagai kompensasi atas kerusakan yang mereka sebabkan,” klaim Trump.
Dalam pernyataan kontroversial lainnya, Trump menyebut pemerintahannya telah “menggantikan” Doktrin Monroe, kebijakan luar negeri AS abad ke-19 yang menentang campur tangan kekuatan asing di kawasan Amerika.
Di tengah eskalasi ini, sejumlah aksi protes bertajuk “Tolak Perang di Venezuela” direncanakan berlangsung di berbagai kota besar AS, termasuk Washington DC, New York, dan Chicago. Salah satu penyelenggara, Answer Coalition, menyerukan penolakan terhadap perang berkepanjangan yang dinilai akan membawa penderitaan bagi rakyat Venezuela.
Sementara itu, pemerintah Venezuela mengecam keras apa yang mereka sebut sebagai “agresi militer” AS, dengan laporan bahwa serangan menargetkan fasilitas sipil dan militer di sedikitnya empat negara bagian.
Kekhawatiran juga datang dari komunitas internasional. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam terhadap tindakan militer AS dan menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB.
Sumber: Xinhua