CEO Microsoft Minta Masyarakat Mengubah Pandangan Terhadap AI

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - CEO Microsoft Satya Nadella meminta masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap kecerdasan artifisial (AI) menjelang 2026. Ia menilai AI seharusnya tidak lagi dilihat sebagai “slop” atau konten asal-asalan, melainkan sebagai alat yang bisa memperkuat kemampuan berpikir manusia.

Pandangan ini disampaikan Nadella lewat tulisan di blog pribadinya, beberapa pekan setelah Merriam-Webster menetapkan kata “slop” sebagai word of the year. Dalam tulisan yang dikutip Tech Crunch, Senin (5/1), Nadella mengajak publik memandang AI sebagai “bicycle for the mind” atau sepeda bagi pikiran, sebuah alat bantu yang membuat manusia bisa berpikir dan bekerja lebih efektif.

“Sebuah konsep baru yang mengembangkan gagasan ‘bicycle for the mind’, sehingga kita selalu memandang AI sebagai penopang potensi manusia, bukan sebagai pengganti manusia," tulis Nadella.

Menurutnya, perdebatan soal AI sebagai konten murahan atau teknologi super canggih sudah waktunya ditinggalkan. Nadella menekankan pentingnya keseimbangan baru dalam memahami cara manusia berpikir dan berinteraksi, terutama karena kini manusia sudah dibekali alat penguat kognitif seperti AI.

Intinya, Nadella tidak ingin konten buatan AI langsung dicap negatif. Ia juga mendorong industri teknologi berhenti menjual narasi AI sebagai pengganti manusia. Baginya, AI lebih tepat diposisikan sebagai alat bantu produktivitas, bukan ancaman.

Namun, pendekatan ini bukannya tanpa tantangan. Di lapangan, banyak pemasaran agen AI justru menonjolkan kemampuan teknologi tersebut untuk menggantikan tenaga manusia demi membenarkan harga dan efisiensi. Sejumlah tokoh di industri AI juga telah memperingatkan potensi lonjakan pengangguran.

Pada Mei lalu, CEO Anthropic Dario Amodei bahkan menyebut AI bisa menghilangkan hingga setengah pekerjaan kantoran level pemula dan mendorong angka pengangguran ke level 10–20 persen dalam lima tahun ke depan.

Meski begitu, dampak AI terhadap dunia kerja masih belum sepenuhnya jelas. Seperti yang disiratkan Nadella, sebagian besar AI saat ini masih digunakan oleh manusia, bukan sepenuhnya menggantikan mereka, selama hasilnya tetap diawasi dan diperiksa.

Studi Project Iceberg dari MIT memperkirakan AI baru mampu mengambil alih sekitar 11,7 persen pekerjaan berbayar, itu pun hanya pada sebagian tugas, bukan keseluruhan pekerjaan. Sementara laporan Vanguard menunjukkan sekitar 100 jenis pekerjaan yang paling terpapar otomatisasi AI justru mengalami pertumbuhan lapangan kerja dan kenaikan upah riil. Artinya, mereka yang bisa memanfaatkan AI dengan baik justru makin bernilai.

Menariknya, narasi AI sebagai ancaman pekerjaan juga sempat menguat lewat langkah Microsoft sendiri. Pada 2025, perusahaan memangkas lebih dari 15.000 karyawan meski mencatat pendapatan dan laba tertinggi, dengan alasan transformasi AI. Namun, laporan menyebutkan pemutusan hubungan kerja tersebut lebih berkaitan dengan strategi bisnis secara umum, bukan semata karena efisiensi AI.

Di tengah pro dan kontra itu, tak sedikit orang yang menilai “slop” seperti meme atau video pendek buatan AI tetap menjadi salah satu sisi teknologi ini yang paling menghibur, dan mungkin justru paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sumber: Tech Crunch

Bagikan

Mungkin Kamu Suka