Jakarta (KABARIN) - Uber bersama Lucid Motors dan Nuro memperkenalkan versi siap produksi dari robotaxi hasil kolaborasi mereka dalam ajang Consumer Electronics Show (CES) 2026 di Las Vegas.
Laman Tech Crunch pada Senin (5/1) waktu setempat melaporkan, taksi otonom tanpa awak ini telah dikembangkan selama lebih dari setengah tahun, sebagai bagian dari kesepakatan di mana Uber menginvestasikan dana sebesar 300 juta dolar AS (Rp5 triliun) ke Lucid dan berkomitmen membeli 20.000 mobil listrik (EV) buatan perusahaan tersebut.
Ketiga perusahaan menyatakan bahwa robotaxi ini sudah diuji coba di jalan umum dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial di wilayah San Francisco Bay Area pada akhir tahun ini.
Dibangun berdasarkan SUV Lucid Gravity, robotaxi ini dilengkapi kamera beresolusi tinggi, sensor lidar solid-state, serta radar yang terintegrasi di bodi kendaraan dan pada bagian atap berbentuk “halo”.
Sistem otonominya ditenagai komputer Nvidia Drive AGX Thor. Halo di atap juga memiliki lampu LED terintegrasi untuk membantu penumpang mengenali kendaraan mereka, mirip dengan sistem yang digunakan Waymo pada Jaguar I-Pace.
Seluruh teknologi tambahan ini dipasang langsung saat kendaraan diproduksi di pabrik Lucid Motors di Casa Grande, Arizona. Cara ini menghemat waktu dan biaya, berbeda dengan Waymo yang saat ini masih harus membongkar ulang kendaraan I-Pace dari Jaguar untuk memasang teknologi otonomnya.
Versi yang dipamerkan di CES merupakan versi yang lebih matang dari unit uji coba yang selama tujuh bulan terakhir hanya ditampilkan lewat foto pers. Hal baru yang diperkenalkan adalah antarmuka pengguna. Terdapat layar kecil di bagian halo untuk menyambut penumpang, serta layar di dalam kabin.
Pengalaman ini akan terasa familiar bagi pengguna robotaxi Waymo. Layar penumpang belakang menampilkan tampilan grafis isometrik kendaraan yang bergerak di jalan kota, lengkap dengan visual kendaraan dan pejalan kaki di sekitarnya.
Sistem ini akan menampilkan informasi seperti perkiraan waktu tiba, sisa durasi perjalanan, pengaturan suhu dan musik, serta tombol untuk menghubungi bantuan dan meminta kendaraan menepi.
Layar penumpang depan menampilkan informasi serupa dalam layar sentuh tengah yang lebih besar. Pada unit demonstrasi, tampilan tersebut juga muncul di layar OLED melengkung 34 inci milik Lucid Gravity di balik kemudi.
Uber memilih Lucid Gravity sebagai basis layanan robotaxi “premium” ini karena ruang kabinnya yang sangat lega, baik untuk konfigurasi dua baris maupun tiga baris kursi.
Meski demikian, tahun pertama Gravity tidak lepas dari masalah, terutama kendala perangkat lunak saat produksi awal. Namun Lucid mengklaim telah pulih dan mencatatkan peningkatan produksi dua kali lipat pada 2024. Setelah proses validasi akhir selesai, versi produksi robotaxi ini akan mulai diproduksi di Arizona, meski jadwal pastinya belum diumumkan.
Sumber: Tech Crunch