Gunung Semeru Kembali Aktif, Warga Diminta Waspada Potensi Awan Panas dan Lahar

waktu baca 2 menit

Selama enam jam terakhir tercatat Semeru mengalami 30 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 15-22 mm, dan lama gempa 76-136 detik

Lumajang, Jawa Timur (KABARIN) - Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup intens. Gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut ini tercatat mengalami puluhan gempa letusan dalam waktu singkat, menandakan dinamika alam yang perlu terus diwaspadai.

Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Semeru, dalam periode pengamatan Minggu siang hingga sore hari, tepatnya pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, tercatat 30 kali gempa letusan atau erupsi. Getaran tersebut memiliki amplitudo berkisar 15–22 milimeter dengan durasi antara 76 hingga 136 detik.

Tak hanya itu, Semeru juga mengalami satu kali gempa embusan, satu gempa tektonik jauh, serta satu kali getaran banjir dengan durasi yang cukup panjang. Aktivitas ini terekam jelas oleh alat pemantauan, meskipun secara visual puncak gunung tertutup kabut tebal akibat cuaca mendung dan hujan ringan.

Secara kasat mata, kawah Semeru tidak teramati karena tertutup kabut level 0–II hingga 0–III. Asap kawah pun tidak terlihat, dengan kondisi cuaca dominan mendung hingga hujan dan angin bertiup lemah ke arah selatan. Meski terlihat tenang, data seismik menunjukkan aktivitas di dalam gunung masih berlangsung.

Saat ini, Gunung Semeru masih berada pada status Level III (Siaga). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara, khususnya sepanjang aliran Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak.

Selain itu, warga juga diminta menjauhi radius 500 meter dari sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar yang bisa menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak.

Aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru juga tidak direkomendasikan karena berisiko terkena lontaran batu pijar.

PVMBG juga mengimbau masyarakat untuk terus mewaspadai potensi awan panas guguran, aliran lava, dan lahar, terutama di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Saat curah hujan tinggi, sungai-sungai kecil yang menjadi anak Besuk Kobokan juga berpotensi dilanda lahar.

Kesadaran dan kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan menjadi kunci utama agar aktivitas alam Gunung Semeru tidak berubah menjadi ancaman bagi masyarakat sekitar.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka