California (KABARIN) - Mattel kembali memperluas pesan inklusivitas dengan menghadirkan karakter Barbie yang merepresentasikan individu dengan autisme. Boneka ini dikembangkan bersama Autistic Self Advocacy Network atau ASAN dan resmi menjadi bagian dari seri Barbie Fashionistas.
Proses perancangannya tidak singkat. Mattel membutuhkan waktu sekitar satu setengah tahun untuk memastikan karakter yang dihadirkan benar-benar merefleksikan pengalaman penyandang autisme secara positif dan realistis.
"Sangat penting bagi autisme muda untuk melihat gambaran diri mereka yang jujur dan menyenangkan, dan itulah boneka ini," kata Direktur Eksekutif ASAN Colin Killick, dikutip dari Today.com.
Dari segi desain, boneka ini memiliki detail khusus yang menggambarkan karakteristik umum pada sebagian individu autis. Sendi di bagian siku dan pergelangan tangan dibuat lebih fleksibel agar tangan dapat bergerak naik turun secara berulang, sebuah gerakan yang sering dilakukan saat merasa tidak nyaman atau kewalahan.
Arah pandangan mata boneka juga dibuat sedikit menyamping. Desain ini merepresentasikan kondisi di mana sebagian penyandang autisme cenderung menghindari kontak mata langsung saat berinteraksi.
Tak hanya itu, Mattel melengkapi boneka dengan sejumlah aksesori pendukung. Terdapat penutup telinga berwarna merah muda untuk membantu meredam suara, mainan fidget spinner, serta sebuah tablet bergambar yang berfungsi sebagai alat bantu komunikasi nonverbal.
Pilihan busana pun dirancang dengan cermat. Boneka mengenakan gaun longgar dengan potongan melebar di bagian bawah agar nyaman dan tidak menempel di kulit, serta sepatu bersol datar supaya bisa berdiri dengan stabil.
Karakter Barbie dengan autisme ini melengkapi jajaran Fashionistas yang sebelumnya sudah menghadirkan boneka dengan beragam kondisi dan karakter fisik, seperti diabetes tipe 1, gangguan penglihatan, hingga down syndrome.
Mattel berharap kehadiran boneka-boneka ini bisa membantu anak-anak belajar memahami perbedaan sejak dini. Melalui bermain peran, anak dapat mengenal pengalaman hidup orang lain di luar lingkungannya sendiri.
Sejumlah riset, termasuk penelitian dari Cardiff University, menunjukkan bahwa bermain boneka dapat mengaktifkan area otak yang berkaitan dengan kemampuan sosial. Aktivitas ini dinilai membantu perkembangan interaksi sosial pada semua anak, termasuk mereka yang berada dalam spektrum autisme.
Sebelum langkah Mattel ini, upaya serupa juga pernah dilakukan oleh Sesame Street yang pada 2018 memperkenalkan karakter Julia sebagai boneka muppet dengan autisme.
Boneka Barbie dengan autisme kini sudah tersedia melalui Mattel Shop dan sejumlah gerai ritel besar.
Sumber: ANTARA