Gelombang Protes Iran Tewaskan 646 Jiwa dan Lebih 10.700 Orang Ditahan

waktu baca 2 menit

Washington (KABARIN) - Jumlah korban meninggal dunia akibat gelombang unjuk rasa di Iran terus bertambah. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia HRANA yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan sedikitnya 646 orang tewas hingga Senin.

Masih berdasarkan catatan HRANA, aparat keamanan Iran juga telah menahan 10.721 orang sampai hari ke-16 aksi protes yang terjadi secara nasional. Selain korban dan penangkapan massal, organisasi tersebut menyoroti kondisi akses informasi di Iran yang turut terdampak. Pemadaman internet dilaporkan berlangsung lebih dari 100 jam selama periode kerusuhan.

Iran dilanda demonstrasi sejak akhir Desember lalu. Aksi pertama pecah pada 28 Desember di kawasan Grand Bazaar Teheran setelah nilai mata uang rial anjlok tajam dan kondisi ekonomi warga semakin tertekan. Dalam waktu singkat, protes menyebar ke berbagai kota lain di negara tersebut.

Pemerintah Iran menuding pihak luar berada di balik gelombang kerusuhan itu. Sejumlah pejabat menyalahkan Amerika Serikat dan Israel yang mereka sebut mendukung kelompok yang dianggap sebagai perusuh bersenjata dan dituduh melakukan serangan di ruang publik.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu 11 Januari menyatakan bahwa pemerintahannya terus memantau situasi di Iran secara ketat. Ia mengatakan Washington sedang mempertimbangkan langkah yang disebutnya sebagai opsi yang sangat kuat seiring meningkatnya jumlah korban.

"Kita akan mengambil keputusan," kata Trump.

Trump menambahkan bahwa laporan terkait kondisi di Iran diterima hampir setiap jam. Meski begitu, ia tidak merinci kapan, di mana, atau bentuk tindakan apa yang kemungkinan akan diambil oleh Amerika Serikat.

Sumber: ANAD

Bagikan

Mungkin Kamu Suka