Jakarta (KABARIN) -
Sutradara Sim F menghadirkan kisah masa kecilnya di panti asuhan lewat film Surat untuk Masa Mudaku yang akan tayang di Netflix pada 2026. Film ini menceritakan tentang kehilangan dan perjalanan menerima diri sendiri.
Sim F menjelaskan ini merupakan proyek pertamanya bekerja sama dengan Netflix setelah terakhir merilis film Susi Susanti: Love All pada 2019. Ia memilih Netflix karena pandemi COVID-19 sempat memengaruhi proses produksi film layar lebar.
“Awalnya saya membagikan cerita masa kecil saya di media sosial. Dari situ Netflix membaca dan mengajak untuk mengembangkan cerita itu menjadi film,” ujar Sim F dalam acara Next on Netflix Indonesia 2026 di Jakarta Selatan, Kamis.
Meski terinspirasi pengalaman pribadinya, film ini bukan biografi. Sim menekankan tema utamanya adalah rasa kehilangan yang sering terbawa hingga dewasa.
“Ketika seseorang kehilangan sejak kecil, rasa takut kehilangan itu sering terbawa sampai dewasa,” katanya.
Judul film ini muncul dari kebiasaannya menulis surat untuk anak-anak panti asuhan sebagai bentuk penguatan diri. Surat itu juga ia anggap sebagai pesan untuk dirinya sendiri di masa kecil, tentang bertahan dan bersyukur telah melewati masa sulit.
Film ini menggambarkan kehidupan anak-anak panti asuhan dan hubungan mereka dengan lingkungan sekitar. Sim berharap penonton bisa merasakan kondisi emosional anak-anak panti asuhan melalui cerita yang jujur dan sederhana.
Proses produksi Surat untuk Masa Mudaku memakan waktu sekitar dua tahun, mulai dari pengembangan naskah hingga tahap akhir. Syuting dilakukan selama 28 hari di Sukabumi dengan melibatkan sejumlah pemeran anak-anak.
Sim menekankan bahwa menyutradarai anak-anak membutuhkan pendekatan berbeda, termasuk pendampingan dan proses pembacaan naskah agar mereka nyaman di lokasi syuting.
“Pendekatannya berbeda dengan orang dewasa. Kami harus membangun kedekatan agar anak-anak merasa nyaman,” katanya.
Mengenai penayangan di Netflix yang bisa dijangkau penonton global, Sim mengatakan tidak ada penyesuaian khusus.
“Tema keluarga dan kehilangan bersifat universal. Kami tidak membuat penyesuaian khusus untuk penonton global,” ujarnya.
Lewat film ini, Sim berharap penonton, terutama anak-anak yang tumbuh dalam keterbatasan, bisa mengambil pesan bahwa latar belakang hidup tidak menentukan masa depan seseorang.
Sumber: ANTARA