Macron Ajak Uni Eropa Pakai "Bazoka Perdagangan" Lawan Tarif Baru AS

waktu baca 2 menit

Moskow (KABARIN) - Presiden Prancis Emmanuel Macron mendorong Uni Eropa untuk bersikap lebih tegas menghadapi ancaman tarif baru dari Amerika Serikat. Ia meminta blok Eropa menggunakan instrumen perdagangan terkuatnya, termasuk mekanisme anti-koersi yang kerap dijuluki sebagai “bazoka perdagangan”.

Pernyataan itu disampaikan Macron saat berbicara di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss, Selasa (20/1). Menurut Macron, Amerika Serikat selama ini memanfaatkan perjanjian perdagangan yang justru merugikan kepentingan ekspor Eropa, sambil menuntut berbagai konsesi maksimal.

Ia menilai langkah tersebut dilakukan secara terbuka untuk melemahkan dan menundukkan Eropa. Situasi ini, kata Macron, makin tidak bisa diterima karena terus dibarengi dengan penambahan tarif baru tanpa henti.

“Eropa kini memiliki instrumen yang sangat kuat, dan kita harus menggunakannya ketika kita tidak dihormati dan ketika aturan main tidak dihormati. Mekanisme anti-koersi adalah instrumen yang kuat dan kita tidak boleh ragu untuk menggunakannya dalam lingkungan yang keras saat ini,” kata Macron.

Seruan Macron muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada 17 Januari bahwa AS akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap sejumlah negara Eropa, yakni Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia, mulai 1 Februari.

Tak berhenti di situ, Trump bahkan menyatakan tarif tersebut akan dinaikkan menjadi 25 persen pada Juni mendatang, kecuali AS berhasil memperoleh Greenland.

Tekanan terhadap Prancis juga semakin meningkat. Pada Selasa yang sama, Trump mengancam akan mengenakan tarif hingga 200 persen terhadap produk anggur dan sampanye Prancis jika Paris menolak undangannya untuk bergabung dalam inisiatif pimpinan AS terkait Gaza.

Trump secara terbuka menyebut ancaman tarif tersebut sebagai cara untuk memaksa Prancis menyetujui usulannya.

Pekan lalu, Trump juga mengumumkan pembentukan “Dewan Perdamaian” untuk Gaza. Dewan bentukan tersebut mencakup Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, utusan khusus Trump Steve Witkoff, menantu Trump Jared Kushner, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Presiden Bank Dunia Ajay Banga, serta Wakil Penasihat Keamanan Nasional AS Robert Gabriel.

Situasi ini memperlihatkan meningkatnya tensi hubungan dagang antara AS dan Eropa, sekaligus menjadi ujian bagi Uni Eropa untuk menunjukkan seberapa jauh mereka siap melindungi kepentingan ekonominya di tengah tekanan global.

Sumber: SPU

Bagikan

Mungkin Kamu Suka