Indonesia di APG 2025: Target Emas Turun, Fokus Regenerasi Atlet Muda

waktu baca 5 menit

Struktur cabang, distribusi nomor, dan strategi pembinaan jangka panjang menjadi variabel yang sama pentingnya dalam membaca hasil akhir kontingen Indonesia di ASEAN Para Games 2025.

Jakarta (KABARIN) - ASEAN Para Games 2025 di Nakhon Ratchasima, Thailand pada 20 - 26 Januari 2026, menjadi ajang yang tidak sepenuhnya ideal bagi kontingen Indonesia.

Dengan rekam jejak dominan pada tiga edisi terakhir, Indonesia justru memasang target yang jauh lebih rendah dibandingkan pencapaian sebelumnya.

Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama Komite Paralimpiade Nasional (National Paralympic Committee, NPC) Indonesia menetapkan target 82 medali emas, 77 perak, dan 77 perunggu, dengan sasaran finis tiga besar klasemen akhir.

Target tersebut kontras dengan performa Indonesia pada ASEAN Para Games 2023 di Phnom Phen Kamboja, ketika kontingen Merah Putih mengoleksi 159 emas, 148 perak, dan 94 perunggu. Saat itu, Indonesia memastikan gelar juara umum untuk ketiga kalinya secara beruntun, sekaligus mencatat sejarah medali terbanyak di luar penyelenggaraan ASEAN Para Games di ngeri sendiri.

Satu edisi sebelum Kamboja, yakni di Solo 2022, Indonesia meraih 175 medali emas, sementara pada ASEAN Para Games Kuala Lumpur 2017 tim Garuda mengumpulkan 126 emas. Dari 11 edisi penyelenggaraan, Indonesia tercatat empat kali menjadi juara umum dan hampir selalu berada di dua besar klasemen akhir.

Penurunan target ini bukan semata-mata penurunan ambisi. Kebijakan tuan rumah Thailand menjadi faktor utama. Sebagaimana perhelatan SEA Games 2025 beberapa waktu lalu, beberapa nomor di cabang olahraga yang kerap menjadi lumbung emas Indonesia dipangkas dan tidak dipertandingkan.

Panitia penyelenggara ASEAN Para Games 2025 memangkas 63 nomor yang selama ini menjadi ladang emas Indonesia. Penghilangan nomor terjadi terutama di cabang unggulan seperti atletik dan akuatik, dua sektor yang selama ini menyumbang porsi besar medali emas bagi Indonesia.

Kondisi tersebut membuat perhitungan target medali harus disesuaikan. Target awal yang sempat berada di kisaran 120 emas tidak lagi relevan setelah peta nomor lomba berubah, dengan Thailand diproyeksikan hampir pasti menjadi juara umum di pesta olahraga disabilitas ke-13 ini.

Berkaca pada SEA Games 2025, Thailand sebagai tuan rumah menjadi juara umum dengan upaya yang terlalu mencolok, mereka mengoleksi 233 emas, selisih 142 emas dengan Indonesia yang berada di posisi runner-up dengan 91 emas.

Meski berada dalam kondisi yang kurang menguntungkan, Indonesia tetap mengirimkan kekuatan penuh dengan memberangkatkan 290 atlet yang akan berlaga di 18 cabang olahraga. Beberapa cabang masih diproyeksikan menjadi tumpuan medali, di antaranya atletik dengan target 25 emas, catur 12 emas, serta tenis meja 11 emas. Target tersebut mencerminkan upaya NPC Indonesia untuk tetap menjaga daya saing di cabang-cabang yang secara historis konsisten menyumbang prestasi.

Regenerasi

ASEAN Para Games 2025 tidak semata diposisikan sebagai ajang perburuan medali bagi Indonesia. Ketua Umum NPC Indonesia Senny Marbun secara tegas menyatakan bahwa ajang ini menjadi momentum strategis untuk membangun regenerasi atlet. NPC Indonesia secara sadar menurunkan atlet-atlet muda, termasuk mereka yang sebelumnya tampil di Asian Youth Para Games 2025, untuk mendapatkan pengalaman bertanding di level senior.

Kebijakan ini menandai pergeseran pendekatan pembinaan prestasi. NPC Indonesia tidak lagi hanya berfokus pada capaian jangka pendek, tetapi mulai menempatkan ASEAN Para Games sebagai bagian dari jalur pembinaan menuju ajang yang lebih besar, seperti Asian Para Games dan Paralimpiade. Keberanian menurunkan atlet muda di level senior dinilai penting untuk mempercepat kematangan mental, teknik, dan daya saing mereka di level internasional.

Perlu diketahui bahwa ajang debut para atlet muda ini bukan kebijakan yang serta merta. NPC Indonesia sudah jauh-jauh hari mempersiapkan mereka sebagai regenerasi pengganti Ni Nengah Widiasih dan Leani Ratri Oktila di masa depan. Program regenerasi atlet muda ini sudah berjalan bahkan sejak Pekan Paralimpiade Nasional tahun 2024 di Surakarta.

Namun, regenerasi ini juga dilakukan tanpa sepenuhnya mengesampingkan atlet senior. Komposisi kontingen Indonesia dirancang untuk memadukan pengalaman atlet senior dengan energi dan motivasi atlet muda.

Leani sebagai Ratu Para Bulu Tangkis dunia juga tetap diturunkan, begitu juga Widi yang terbiasa dengan panggung para angkat berat di Olimpiade juga tetap tampil. Namun, hampir seluruh cabang olahraga yang diikuti Indonesia memiliki representasi atlet muda.

Di tengah dinamika teknis dan nonteknis tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menekankan pentingnya fokus bertanding setelah upacara pembukaan ASEAN Para Games 2025. Erick mengimbau atlet, pelatih, dan ofisial untuk tidak larut dalam berbagai kekurangan pelayanan yang mungkin terjadi selama penyelenggaraan. Menurutnya, konsentrasi, mental bertanding, dan semangat juang menjadi faktor utama untuk menjaga peluang mencapai target 82 medali emas.

Erick juga menegaskan bahwa dinamika di luar arena tidak boleh mengganggu persiapan dan performa atlet. Sikap profesional dinilai krusial agar energi kontingen sepenuhnya tercurah pada pertandingan. Dalam konteks ini, target yang lebih rendah justru menuntut efisiensi dan konsistensi performa di setiap nomor yang masih dipertandingkan.

ASEAN Para Games 2025 sendiri merupakan edisi ke-13 dengan total 493 medali emas diperebutkan oleh 11 negara peserta dari 19 cabang olahraga dan dua cabang ekshibisi. Sebanyak 1.700 atlet ambil bagian dalam ajang ini, dengan Thailand sebagai tuan rumah utama upacara pembukaan dan penutupan di Nakhon Ratchasima.

Bagi Indonesia, ajang ini berlangsung dalam lanskap yang lebih kompleks dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. Di satu sisi, target prestasi harus disesuaikan dengan realitas teknis akibat berkurangnya nomor lomba. Di sisi lain, kebutuhan regenerasi atlet menjadi agenda jangka menengah yang tidak bisa ditunda.

Kombinasi dua kepentingan tersebut membuat ASEAN Para Games 2025 menjadi ajang yang lebih menekankan manajemen prestasi ketimbang dominasi mutlak.

Dengan konfigurasi seperti itu, capaian Indonesia di Nakhon Ratchasima tidak lagi dapat diukur semata dari posisi puncak klasemen. Struktur cabang, distribusi nomor, dan strategi pembinaan jangka panjang menjadi variabel yang sama pentingnya dalam membaca hasil akhir kontingen Indonesia di ASEAN Para Games 2025.

Karena tujuan utama Indonesia adalah prestasi Para Games berkelanjutan, dan mencatat sejarah-sejarah baru kelak di Paralimpiade Los Angeles 2028, melanjutkan catatan-catatan sejarah yang mulai ditulis pada Paralimpiade Paris 2024.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka