Jakarta (KABARIN) - Analis dari PT Korea Investment And Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai kombinasi sentimen global dan domestik membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Rabu (21/1), mengalami tekanan.
Dari sisi dalam negeri, saham perusahaan besar berbasis Sumber Daya Alam (SDA) terdampak setelah pemerintah mencabut izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) terhadap 28 perusahaan di sektor tersebut.
“Kombinasi sentimen eksternal geopolitik dan domestik terkait tekanan di saham big caps berbasis SDA akibat isu pencabutan izin,” ujar Wafi saat dihubungi di Jakarta.
Selain itu, Wafi menjelaskan investor cenderung menghindari ketidakpastian dan memindahkan dana ke instrumen aman seperti emas dan dolar AS, sehingga terjadi aliran modal asing keluar dari pasar saham Indonesia.
Dampak dari isu geopolitik, termasuk ketegangan terkait Greenland dan konflik Presiden AS Donald Trump dengan negara-negara NATO dan Eropa, menurut Wafi lebih terasa secara psikologis dan memengaruhi arus modal.
“Ketegangan global membuat investor menarik dana dari pasar berkembang kembali ke AS, yang berimbas pada pelemahan nilai tukar Rupiah,” kata Wafi.
Dengan kombinasi sentimen domestik dan global itu, IHSG diperkirakan bergerak di level sekitar 9.000, meski secara fundamental masih solid karena transaksi masih didominasi investor lokal.
“Jangka pendek IHSG mungkin tertekan untuk menguji support psikologis 9.000. Namun secara fundamental indeks ini masih kuat berkat dominasi investor domestik dalam perdagangan harian,” ujar Wafi.
Data Bursa Efek Indonesia sesi II Rabu pukul 15.10 WIB mencatat IHSG turun 143,52 poin atau 1,57 persen ke posisi 8.991,18. Frekuensi perdagangan tercatat 3,49 juta kali dengan 52,25 miliar lembar saham senilai Rp28,28 triliun berpindah tangan. Sebanyak 154 saham naik, 584 turun, dan 63 stagnan.
Hampir semua sektor melemah, dipimpin industri turun 6,50 persen, diikuti properti turun 3,69 persen, serta transportasi dan logistik yang turun 2,87 persen.
Sumber: ANTARA