UEA Tegas Tak Izinkan Wilayahnya Dipakai untuk Serangan Iran

waktu baca 2 menit

Istanbul (KABARIN) - Uni Emirat Arab kembali menegaskan sikapnya untuk tidak terlibat dalam konflik bersenjata yang menargetkan Iran. Pemerintah UEA memastikan wilayah udara, darat, maupun perairannya tidak akan digunakan untuk kepentingan serangan militer terhadap Tehran.

Melalui pernyataan resmi pada Senin 26 Januari, Kementerian Luar Negeri UEA juga menolak memberikan bantuan logistik dalam bentuk apa pun yang berkaitan dengan aksi militer ke Iran. Sikap ini disebut sebagai bagian dari komitmen negara tersebut menjaga stabilitas kawasan.

UEA menilai pendekatan damai masih menjadi jalan paling efektif di tengah meningkatnya ketegangan regional. Pemerintah setempat menekankan pentingnya komunikasi terbuka, penurunan eskalasi, serta penghormatan terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara.

Kementerian tersebut mengatakan bahwa UEA percaya bahwa "dialog, de-eskalasi, kepatuhan terhadap hukum internasional, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara merupakan fondasi paling efektif untuk mengatasi krisis saat ini," sembari menggarisbawahi pendekatan negara Teluk tersebut untuk "menyelesaikan perselisihan melalui jalur diplomatik."

Situasi geopolitik di kawasan memang tengah memanas, terutama setelah hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali tegang usai gelombang protes anti pemerintah merebak di sejumlah kota di Iran akibat tekanan ekonomi yang memburuk.

Sejumlah media Amerika Serikat melaporkan pergerakan militer Washington, termasuk kedatangan kapal induk USS Abraham Lincoln bersama tiga kapal perusak ke Samudra Hindia. Armada tersebut dikabarkan bergerak menuju Teluk Oman sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan konflik dengan Iran.

Presiden AS Donald Trump kemudian membenarkan kabar tersebut. Ia menyatakan bahwa armada militer Amerika sedang menuju Timur Tengah dan pemerintah AS terus memantau kondisi di Iran secara intensif.

Pemerintah AS menegaskan bahwa seluruh opsi masih terbuka dalam menghadapi Tehran, termasuk langkah militer. Sikap ini sejalan dengan upaya Washington dan Israel yang disebut ingin mendorong perubahan sistem pemerintahan di Iran.

Di sisi lain, pejabat Iran telah memberikan peringatan keras. Mereka menyebut setiap serangan dari Amerika Serikat akan dibalas dengan respons yang cepat dan menyeluruh.

Ketegangan serupa sebelumnya juga terjadi pada Juni 2025 ketika Israel dengan dukungan AS melancarkan operasi militer selama 12 hari terhadap Iran. Serangan tersebut memicu balasan drone dan rudal dari Tehran sebelum akhirnya gencatan senjata diumumkan oleh Washington.

Sumber: ANAD

Bagikan

Mungkin Kamu Suka