Jakarta (KABARIN) - Ahli gizi dan anggota Asosiasi Dietisien Indonesia, Diah Maunah, bilang mi instan kuah bisa dibuat lebih sehat dengan sedikit trik. Caranya, modifikasi bumbunya pakai bumbu dapur dan tambahkan lauk protein serta sayuran.
“Modifikasi penggunaan bumbu untuk menurunkan kandungan natrium, dengan cara penggunaan bumbu dapur untuk mengurangi penggunaan bumbu bubuk mi instan,” kata Diah, Senin.
Diah menjelaskan kalau memasak mi instan, bumbu bubuk bisa dikurangi. Misalnya untuk satu keluarga lima orang, cukup pakai tiga bungkus bumbu bubuk dan tambahkan bumbu dapur seperti tumisan bawang merah, bawang putih, kemiri, atau cabai segar.
Selain itu, mi instan juga bisa dilengkapi lauk hewani seperti telur, ayam suir, atau ikan supaya kandungan proteinnya tercukupi. Sayuran juga penting sebagai sumber serat dan kalium, bisa pakai sawi hijau atau putih, ketimun, kangkung, sampai tomat supaya natrium lebih seimbang.
Diah mengingatkan juga untuk tidak menambahkan saus atau kecap terlalu banyak karena bisa bikin natriumnya naik. Hindari pelengkap tinggi natrium seperti pilus atau keripik asin dan jangan menghabiskan kuahnya supaya natrium tetap terkendali.
Ia menekankan, jangan menjadikan mi instan sebagai menu belanja bulanan supaya nggak tergoda makan tiap hari, jadikan mi instan sebagai makanan rekreasi saja. Hal ini juga berlaku untuk mi instan yang diklaim lebih sehat atau dipanggang dan non-MSG.
Klaim sehat tetap perlu dicek lewat label informasi gizi, termasuk energi, lemak, dan natrium.
“Jika kita bandingkan dalam satu sajian energinya memang dapat berbeda 50 persennya dikarenakan teknik pemanggangan mi-nya sehingga kandungan lemaknya pun signifikan lebih sedikit turun 40 persen,” jelas Diah.
Meski begitu, kandungan natrium pada mi diet atau mi panggang bisa tetap tinggi, tergantung varian rasanya, bahkan ada yang di atas 1.500 milligram. Oleh karena itu, Diah menyarankan mi instan, walau diklaim sehat, tetap tidak dikonsumsi tiap hari dan frekuensi konsumsinya perlu diperhatikan.
Sumber: ANTARA