Teheran (KABARIN) - Hasil perundingan nuklir yang akan digelar antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai sulit ditebak. Hal ini diungkapkan seorang sumber dari Iran kepada RIA Novosti pada Jumat.
Menurut sumber tersebut, rumitnya situasi politik serta sikap Amerika Serikat menjadi alasan utama kenapa hasil dialog kali ini sulit diprediksi. Ia menilai proses negosiasi tidak berjalan di atas fondasi kepercayaan yang kuat.
"Kurangnya kepercayaan terhadap pihak AS adalah tantangan utama (perundingan), khususnya setelah langkah militer agresif yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran dalam pembicaraan sebelumnya di Muscat," kata sumber tersebut.
Langkah-langkah agresif itu, lanjut sumber, dinilai makin memperlebar jarak ketidakpercayaan antara kedua pihak. Dampaknya, Iran kini bersikap jauh lebih hati-hati dalam setiap proses dialog dengan AS.
Perundingan terbaru soal isu nuklir ini dijadwalkan berlangsung di Oman pada Jumat. Pertemuan tersebut akan mempertemukan Utusan Khusus AS Steve Witkoff dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Sebelumnya, pada Januari, Presiden AS Donald Trump sempat melontarkan pernyataan keras terkait Iran. Ia mengatakan bahwa sebuah “armada besar” sedang menuju Iran. Trump juga menyampaikan harapannya agar Teheran mau bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang adil dan setara, termasuk komitmen untuk sepenuhnya meninggalkan senjata nuklir.
Tak hanya itu, Trump juga melontarkan peringatan bernada ancaman. Ia menyebut bahwa jika tidak ada kesepakatan terkait program nuklir Iran, setiap serangan AS di masa depan terhadap negara tersebut akan “jauh lebih buruk” dibandingkan serangan sebelumnya.
Dengan latar belakang tensi politik dan militer yang masih tinggi, perundingan nuklir AS-Iran kali ini pun diprediksi bakal berjalan alot. Banyak pihak menilai, proses menuju kesepakatan masih panjang dan penuh tantangan.
Sumber: Sputnik_OANA