Cinta Laura Sentil Isu Kesehatan Mental Anak di NTT

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Aktris, Cinta Laura Kiehl yang dikukuhkan sebagai Duta Nasional UNICEF merespons kasus siswa bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan berkomitmen untuk memperjuangkan hak-hak anak di bidang pendidikan dan kesehatan mental bersama berbagai pihak.

"Beberapa waktu lalu, sebuah peristiwa di NTT sangat mengguncang saya. Seorang siswa sekolah dasar mengakhiri hidupnya karena merasa malu tidak memiliki buku dan alat tulis. Bukan hanya kehilangan nyawa yang menyedihkan, melainkan alasan dibaliknya, rasa malu yang lahir dari kemiskinan, adalah luka mendalam bagi kita semua," kata Cinta di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa.

Untuk menangani masalah kesehatan mental, utamanya yang menyangkut pendidikan, Cinta menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh pihak, termasuk lembaga-lembaga besar seperti UNICEF untuk terus mengadvokasi pemerintah Indonesia agar terus bergerak untuk menghapuskan kemiskinan melalui pendidikan.

"Mengapa kita masih membiarkan anak-anak menanggung beban ekonomi dan mental hingga kehilangan harapan hidup? Seharusnya kita bisa bergerak bersama untuk membantu hidup mereka menjadi lebih baik melalui pendidikan," ujar dia.

Cinta mengutarakan UNICEF berperan memberikan rekomendasi, riset, dan pengalaman global untuk memperkuat kebijakan pemerintah, sementara implementasi tetap berada di tangan negara.

"Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor, yakni pemerintah, UNICEF, masyarakat sipil, media, dan individu menjadi kunci utama untuk mewujudkan perlindungan dan kesejahteraan anak secara berkelanjutan," paparnya.

Sementara itu, Perwakilan UNICEF di Indonesia Maniza Zaman mengatakan perlindungan anak membutuhkan pendekatan menyeluruh, meliputi penguatan sistem hukum dan kebijakan, termasuk regulasi dan strategi nasional, serta pencegahan melalui edukasi dan perubahan norma sosial.

"Perlu ada integrasi kesehatan mental anak ke dalam sistem layanan kesehatan dan pendidikan, termasuk pelatihan tenaga profesional dan layanan konseling di sekolah," kata Maniza.

Selain kesehatan mental, menurutnya, isu tentang kekerasan seksual juga masih menjadi perhatian khusus di Indonesia. Oleh karena itu, perlu respons yang sensitif terhadap korban agar anak dan keluarga berani melapor.

"Kami terus berkolaborasi dengan pemerintah untuk penguatan sistem hukum dan kebijakan, termasuk regulasi dan strategi nasional, serta memberikan kemudahan akses pelaporan dan keadilan bagi korban," tuturnya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka