Pacitan, Jawa Timur (KABARIN) - Kabar gembira datang dari Pacitan, Jawa Timur. Sebanyak 11,5 ton gula aren organik produksi Desa Temon resmi dilepas untuk diekspor ke tiga negara sekaligus, yaitu Malaysia, Belanda, dan Australia. Ekspor ini menandai makin kuatnya posisi produk unggulan desa di pasar internasional, dengan nilai ekspor mencapai Rp535 juta.
Pelepasan ekspor dipusatkan di Desa Sejahtera Astra Temon dan dihadiri langsung oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto. Momen ini jadi bukti bahwa produk desa juga bisa naik kelas dan bersaing di pasar global.
"Saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang sudah menjadi inisiator di Desa Temon ini untuk melahirkan Desa Ekspor, di mana hari ini kita melepas ekspor gula aren organik," kata Yandri seusai seremoni pelepasan ekspor di Pacitan, Kamis.
Sebelum prosesi pelepasan, Yandri sempat naik ke kabin truk bermuatan enam ton gula aren untuk memastikan kesiapan distribusi menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Ia juga mengingatkan sopir agar menjaga muatan dengan baik karena komoditas ini membawa nama daerah dan bangsa.
"Ingat, yang ada di belakang itu bukan sekadar gula aren, tapi mewakili Pacitan, Jawa Timur, dan juga Merah Putih," ujarnya.
Yandri menekankan ada tiga kunci agar ekspor gula aren bisa terus berlanjut. Pertama, menjaga kualitas produk. Kedua, memastikan kuantitas terpenuhi. Ketiga, menjamin produksi berkelanjutan lewat penguatan budidaya dan regenerasi tanaman aren.
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji berharap ekspor gula aren organik ini bisa membuka jalan bagi produk unggulan lain dari daerah yang dikenal dengan julukan “70-Mile Sea Paradise”.
"Kita tidak bisa bekerja sendiri, harus kolaborasi. SDM desa juga harus diperkuat agar mampu mengenali dan mengelola potensi yang ada," kata Indrata.
Dari sisi dunia usaha, manajemen Astra menyebut ekspor gula aren organik Desa Temon merupakan hasil kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan perusahaan lewat Program Desa Sejahtera Astra. Program ini sudah berjalan sejak 2018 dan membina 1.280 desa di 35 provinsi.
Dalam lima tahun terakhir, sebanyak 548 desa binaan berhasil menembus pasar internasional dengan total valuasi ekspor mencapai Rp411 miliar. Khusus di Pacitan, program tersebut melibatkan sekitar 400 warga dari lima desa melalui pendampingan Temon Agro Lestari.
Pembinaan dilakukan lewat berbagai program, mulai dari pelatihan pra-Standar Nasional Indonesia (SNI) organik, penerapan Internal Control System (ICS), penguatan proses produksi dari hulu ke hilir, audit sistem manajemen pangan (HACCP), hingga pembangunan dapur bersih petani.
Program ini disebut berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 50 persen dengan tingkat penyerapan produk mencapai 100 persen. Selain itu, ekosistem produksi gula aren organik di Pacitan juga makin kuat, berkelanjutan, dan siap bersaing di pasar ekspor.
Manajemen Astra menilai momentum ekspor ini jadi bukti bahwa produk unggulan desa bisa bersaing di pasar global, asalkan konsisten menjaga mutu dan keberlanjutan. Dengan pelepasan ekspor tersebut, Desa Temon kini ditetapkan sebagai salah satu model desa ekspor berbasis komoditas organik di Pacitan, yang diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi desa secara inklusif dan berkelanjutan.
Sumber: ANTARA