Perusahaan AI China Berlomba Luncurkan Model Terbaru di Momen Imlek

waktu baca 3 menit

Beijing (KABARIN) - Perusahaan kecerdasan buatan di China lagi ngebut merilis model-model terbaru selama liburan Tahun Baru Imlek. Mereka sama-sama ingin menciptakan gebrakan besar, mengikuti jejak sukses yang sebelumnya diraih DeepSeek.

Beberapa waktu lalu, komunitas AI dibuat heboh dengan kemunculan model uji coba misterius bernama Pony Alpha. Model ini viral karena kemampuan coding-nya yang dinilai sangat kuat, sampai banyak yang menebak-nebak siapa pengembangnya. Pada Kamis 12 Februari, terungkap bahwa model tersebut adalah GLM-5 buatan Zhipu AI yang berbasis di Beijing.

Dalam masa uji coba tertutupnya, GLM-5 mencatat skor tinggi di berbagai standar pengujian agen AI terbaru. Model ini juga sudah dipakai dalam banyak alur kerja agen AI, menandakan kepercayaan diri pengembang China yang makin besar terhadap kualitas produk mereka.

Di sisi lain, Moonshot juga ikut bikin kejutan dengan merilis Kimi 2.5 versi terbaru. Model open source ini dinilai punya performa kuat untuk berbagai tugas, mulai dari pemrograman, pemrosesan gambar dan video, sampai tugas kecerdasan umum lainnya.

Model ini bahkan diperkirakan bisa memangkas biaya hingga 90 persen. Chamath Palihapitiya menyebutnya sebagai “momen Kimi 2.5” dan menilai kehadirannya “sangat signifikan.”

DeepSeek juga tak mau ketinggalan. Mereka mulai menguji aplikasi dan antarmuka web secara terbatas. Kapasitas context window langsung melonjak dari 128 ribu token menjadi 1 juta token, jadi model bisa memproses teks jauh lebih panjang dalam satu waktu. Ini jadi sinyal bahwa peningkatan besar sedang disiapkan.

Dampak besar peluncuran model R1 DeepSeek pada Januari 2025 kini ikut merambah ke AI video dan gambar. Platform teks-ke-video Seedance 2.0 milik ByteDance yang baru diuji coba mampu menghasilkan video multi-adegan dalam waktu sekitar satu menit hanya dari prompt sederhana. Hal ini langsung memicu tren kreasi video pendek di berbagai platform global.

“Era masa kanak-kanak AIGC telah berakhir,” kata Feng Ji, kreator gim Black Myth Wukong, saat membahas Seedance 2.0.

“Untungnya, setidaknya untuk saat ini, Seedance 2.0 berasal dari China,” lanjutnya.

Selain itu, divisi AI Alibaba, Qwen, juga meluncurkan Qwen-Image 2.0, model dasar pembuatan gambar generasi terbaru yang bersifat open source. Model ini bahkan sudah dipakai untuk mendukung perangkat AI Komite Olimpiade Internasional dalam persiapan Olimpiade Musim Dingin Milan 2026.

Perusahaan teknologi besar seperti Alibaba, Tencent, dan ByteDance memanfaatkan momentum liburan Imlek untuk menarik pengguna ke asisten cerdas mereka. Targetnya jelas, mempercepat pembangunan ekosistem AI dari riset sampai pemakaian langsung oleh masyarakat.

China sendiri punya 1,125 miliar pengguna internet per akhir 2025. Sementara itu, jumlah pengguna AI generatif mencapai 602 juta orang, melonjak 141,7 persen dibanding akhir 2024. Angka ini menunjukkan bahwa pasar AI di China bukan cuma besar, tapi juga tumbuh sangat cepat.

Sumber: Xinhua

Bagikan

Mungkin Kamu Suka