Respons Meremehkan terhadap Masalah Anak Berisiko Ganggu Kesehatan Mental

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Psikiater konsultan anak dan remaja dari RS Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Widi Primaciptadi Sp.KJ Subsp. AR(K), mengingatkan orang dewasa untuk lebih hati-hati dalam merespons cerita anak saat mereka sedang punya masalah. Ucapan yang terkesan meremehkan justru bisa memperparah kondisi mental anak.

Ia menyoroti kebiasaan orang dewasa yang sering menganggap persoalan anak sebagai hal sepele. Padahal, bagi anak, masalah itu bisa terasa sangat besar dan nyata.

“Karena seringkali orang dewasa ini suka meresponsnya dengan kalimat yang rasional ‘itu cuma masalah kecil aja, nanti juga lupa, jangan lebay’ Padahal buat anak itu bukan kecil, itu bisa terasa sangat nyata dan sangat besar,” kata Widi dalam sebuah webinar yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat.

Menurut Widi, cara orang dewasa memandang masalah tidak bisa disamakan dengan cara anak memaknainya. Hal yang terlihat ringan bagi orang tua atau guru, bisa terasa berat bagi anak karena kemampuan mengelola emosi mereka belum matang.

Ia menjelaskan bahwa yang berbahaya bukan hanya peristiwanya, tetapi cara anak menafsirkan kejadian tersebut. Tekanan yang menumpuk bisa berdampak besar pada kondisi mental anak.

“Masalah teman sebaya, konflik keluarga, tuntutan akademik kadang kala terlihat kecil bagi orang dewasa tapi jika tekanan bertemu dengan sistem regulasi yang belum matang dan identitas diri yang masih berkembang dampaknya bisa menjadi sangat besar,” kata Widi.

Widi juga menjelaskan bahwa stres pada anak sering muncul secara perlahan dan tidak selalu terlihat jelas. Tanda-tandanya bisa berupa perubahan sikap seperti lebih pendiam, sering menyalahkan diri sendiri, mudah marah, atau lebih sensitif dari biasanya.

Perubahan kecil yang terjadi terus-menerus ini, kata dia, sering muncul sebelum kondisi anak memburuk. Karena itu, peran orang dewasa sangat penting untuk menangkap sinyal sejak dini dan memberi dukungan yang tepat.

Dukungan emosional, pemahaman, dan lingkungan yang aman bisa membantu menahan tekanan yang dirasakan anak dan memperkuat sistem perlindungan bagi mereka.

“Pada anak yang lebih muda, tanda-tandanya justru bisa lebih halus lagi seperti gangguan tidur, sulit konsentrasi, menarik diri dari teman-teman, tidak lagi menikmati aktivitas yang dulu disukai. Seringkali orang dewasa menganggap, ‘oh ini memang lagi fasenya saja’, ‘Namanya juga anak-anak lagi capek saja, lagi sensitif’. Padahal yang penting bukan satu kejadian, yang penting adalah pola dan konsistensi,” jelasnya.

Ia menegaskan, tugas orang tua dan orang dewasa bukan untuk panik berlebihan, tapi peka terhadap perubahan yang terjadi terus-menerus. Membangun komunikasi rutin, memvalidasi perasaan anak, tidak membandingkan dengan anak lain, serta menjadikan rumah dan sekolah sebagai ruang aman adalah langkah penting dalam menjaga kesehatan mental anak.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka