Jakarta (KABARIN) - Harry Styles akhirnya buka suara soal fase hidupnya setelah keluar dari bayang-bayang grup One Direction yang bubar pada 2015. Dari panggung rame bareng band, kini ia harus berdiri sendiri sebagai solois dan ternyata prosesnya tidak sesimpel yang dibayangkan.
Ia mengaku saat masih di grup, tekanan bisa “terbagi” karena ada anggota lain seperti Niall Horan, Zayn Malik, Louis Tomlinson, dan Liam Payne. Menurutnya, berada di grup itu seperti punya ruang aman untuk bersembunyi dari sorotan penuh.
“Ada batas seberapa banyak beban yang ada di pundakmu. Beberapa kali pertama tampil di panggung (tanpa One Direction), aku berpikir, ‘Apa yang harus kulakukan dengan tanganku?’,” kata Harry dalam wawancara di The Sunday Times Magazine yang dikutip oleh People.
Meski karier solonya langsung disambut antusias publik, Harry justru merasa sepi dan penuh tekanan. Ia ingin semuanya berjalan sempurna dan takut mengecewakan banyak orang yang sudah percaya padanya.
“Aku beruntung orang-orang tertarik dengan apa yang akan kubuat, tapi aku menaruh banyak tekanan pada diriku sendiri, ingin semuanya berjalan dengan benar,” ungkapnya.
Saat merilis album solo pertamanya pada 2017, ia mengaku sedang mencari jati diri musikalnya sendiri, tapi tetap dibayang-bayangi rasa takut mengecewakan fans.
“Dengan album pertama itu, aku mencoba mengeksplorasi musik apa yang ingin kubuat sendiri, tapi saat itu aku merasa banyak orang telah menaruh kepercayaan padaku dan aku tidak ingin mengecewakan mereka,” katanya.
Setelah menyelesaikan tur dunia Love on Tour yang berlangsung hampir dua tahun dan berakhir Juli 2023, Harry memilih rehat sejenak dari dunia musik. Ini jadi jeda terpanjang dalam hidupnya selama lebih dari satu dekade berkarier. Awalnya ia merasa keputusan itu aneh, tapi akhirnya sadar bahwa tubuh dan pikirannya memang butuh berhenti.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya. Tapi itu adalah waktu yang tepat untukku, tur selesai pada Juli, dan aku akan berusia 30 tahun pada Februari. Saatnya untuk berhenti sebentar dan memperhatikan bagian lain dalam hidupku,” ujarnya.
Ia lalu menghabiskan waktu di Italia, terutama di Roma, yang memberinya pengalaman hidup lebih pelan dan sederhana.
“Italia menjadi begitu penting bagiku karena aku terbiasa segalanya bergerak begitu cepat dan selalu sibuk, tapi aku ingat pergi ke kafe, duduk, minum kopi, dan berpikir, ‘Aku tidak ingat kapan terakhir kali duduk dan minum kopi, jika aku pernah duduk dan hanya minum kopi,’” ceritanya.
Menurut Harry, menjauh dari hiruk pikuk industri musik justru membuatnya lebih kenal dirinya sendiri. Ia merasa pengalaman ini membentuk karya-karya barunya dengan cara yang lebih jujur dan bebas.
“Aku selalu berpikir, atau berharap, bahwa aku adalah orang yang tidak membutuhkan ledakan dopamin yang sering muncul dari pekerjaan ini. Tapi aku belum benar-benar menjauh dari itu, dan sulit untuk menghilangkan keraguan bahwa mungkin jika semuanya hilang, aku akan sangat merindukannya. Itu selalu menjadi ketakutanku,” katanya.
Kini, Harry siap kembali ke dunia musik dengan energi baru. Ia telah mengumumkan album keempatnya berjudul All the Time. Disco, Occasionally yang dijadwalkan rilis pada 6 Maret. Sebuah fase baru, dengan versi Harry yang lebih tenang, dewasa, dan jujur dengan dirinya sendiri.
Sumber: People