Dokter: Puasa Ramadhan Tetap Aman untuk Penyandang Diabetes Melitus

waktu baca 3 menit

Purwokerto (KABARIN) - Penderita diabetes melitus tetap punya peluang besar menjalankan puasa Ramadhan dengan aman, asalkan melakukan persiapan sejak awal, menjaga pola hidup sehat, dan rutin berada di bawah pengawasan tenaga medis.

Dokter spesialis penyakit dalam Pugud Samodro menjelaskan kunci utama ada pada kesiapan fisik dan pengaturan terapi sejak sebelum Ramadhan dimulai. Menurutnya, pasien diabetes tidak bisa asal ikut puasa tanpa perencanaan yang matang.

"Yang terpenting bagi penyandang diabetes adalah melakukan evaluasi kondisi kesehatan sebelum Ramadhan, menyesuaikan jadwal serta dosis obat, dan tetap memantau gula darah selama berpuasa agar risiko dapat dicegah sejak dini," kata dosen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman itu di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis.

Ia menekankan bahwa perubahan jam makan dan waktu konsumsi obat selama Ramadhan harus benar-benar diperhatikan. Diabetes sendiri merupakan penyakit kronis yang ditandai tingginya kadar gula darah akibat gangguan hormon insulin, baik dari sisi produksi maupun cara kerjanya di dalam tubuh.

"Pengelolaannya membutuhkan pengaturan makan, aktivitas fisik, pemantauan gula darah, serta konsumsi obat atau insulin secara teratur," kata dia Pugud.

Saat puasa, tubuh akan lebih dulu menggunakan cadangan glukosa di hati, lalu beralih ke pembakaran lemak sebagai sumber energi. Pada orang sehat, proses ini umumnya berjalan stabil, tetapi pada penderita diabetes, perubahan ini bisa memicu naik turun gula darah yang tidak terkendali.

Secara umum, puasa masih tergolong aman bagi pasien diabetes yang kadar gulanya terkontrol, jarang mengalami hipoglikemia, tidak memiliki komplikasi berat, patuh minum obat, dan rutin melakukan pengecekan gula darah. Namun, puasa tidak disarankan bagi pasien dengan gula darah sangat tidak stabil, sering hipoglikemia berat, gangguan ginjal stadium lanjut, penyakit jantung berat, stroke baru, serta diabetes pada kehamilan.

Pugud menyarankan agar pasien diabetes mulai berkonsultasi ke dokter satu hingga dua bulan sebelum Ramadhan untuk evaluasi kondisi kesehatan sekaligus penyesuaian terapi.

Soal pola makan, sahur tidak boleh dilewatkan karena berperan besar menjaga kestabilan gula darah. Menu sahur sebaiknya terdiri dari karbohidrat kompleks, protein, sayuran, dan lemak sehat dalam porsi wajar, serta menghindari makanan terlalu manis dan gorengan.

Saat berbuka, pasien dianjurkan memulai dengan air putih dan kurma secukupnya, lalu makan secara bertahap. Sayur dan protein perlu diperbanyak, sementara minuman tinggi gula sebaiknya dibatasi. Kebutuhan cairan juga harus tercukupi minimal delapan gelas air dari waktu berbuka hingga sahur, serta mengurangi konsumsi kopi dan teh berlebihan.

"Obat diabetes tetap harus dikonsumsi sesuai anjuran dokter dengan penyesuaian waktu minum, dan pemeriksaan gula darah mandiri tidak membatalkan puasa," kata dia.

Untuk aktivitas fisik, olahraga ringan seperti jalan santai setelah berbuka atau usai tarawih justru dianjurkan. Sebaliknya, olahraga berat di siang hari sebaiknya dihindari agar tidak memicu penurunan gula darah drastis.

Ia juga mengingatkan puasa harus segera dibatalkan jika muncul tanda bahaya seperti lemas berat, pusing hebat, gemetar, keringat dingin, atau saat hasil pemeriksaan menunjukkan gula darah di bawah 70 mg/dL atau di atas 300 mg/dL.

"Jika dijalankan dengan benar, puasa juga dapat memberi manfaat bagi penyandang diabetes, antara lain membantu pengendalian berat badan, meningkatkan sensitivitas insulin, serta memperbaiki metabolisme tubuh, dengan dukungan keluarga sebagai faktor penting dalam menjaga kepatuhan perawatan," kata Pugud.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka