Pemerhati Anak Tekankan Pentingnya Ruang Berekspresi untuk Cegah Anak Ambil Keputusan Fatal

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Pemerhati anak menekankan pentingnya memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat dan perasaannya serta dilibatkan dalam keputusan yang menyangkut dirinya.

"Anak perlu diberikan ruang menyampaikan pandangan dan perasaannya, didengar tanpa dihakimi, dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya. Jika ini tidak dilakukan, maka anak akan merasa tidak didengar dan cenderung menyimpan beban sendiri," kata Pemerhati anak, Nahar saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Menurut Nahar, dengan adanya ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri, mereka akan merasa didengarkan tanpa dihakimi dan tidak merasa sendirian.

"Sekecil apapun yang dirasakan anak, ketika salurannya tersumbat, dapat saja anak mengambil keputusan melampaui otoritasnya sebagai seorang anak yang akhirnya berniat atau mengakhiri hidupnya sendiri," kata Nahar.

Anak juga berhak tumbuh di lingkungan aman dan ramah anak, baik di keluarga maupun dalam pengasuhan alternatif bagi mereka yang tidak diasuh orang tua kandung.

"Hak ini perlu dipenuhi dalam wujud keluarga yang suportif dan penuh cinta, ruang digital aman untuk anak, dan lingkungan termasuk sekolah atau satuan pendidikan atau lembaga kesejahteraan sosial yang ramah anak," kata Nahar, Dosen Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung.

Nahar menyebutkan, sejak 2004 hingga 2026 tercatat ada 383 kasus anak mengakhiri hidup. Faktor pemicunya beragam, mulai dari bullying, masalah sekolah, depresi, hingga konflik keluarga.

"Lingkungan yang tidak aman dan ramah dapat memicu tindakan anak, dan dari 383 kasus anak mengakhiri hidup disebabkan antara lain karena depresi dengan berbagai sebab ada 146 kasus, asmara termasuk putus cinta atau tidak mendapat restu 72 kasus, serta konflik orang tua atau keluarga 43 kasus," kata Nahar, eks Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA.

Dalam tiga pekan terakhir, tercatat empat anak di Indonesia mengakhiri hidup. Seorang anak laki-laki berinisial YBR (10) di Ngada, NTT, diduga karena tekanan ekonomi keluarga.

Dua pekan berselang, seorang anak perempuan 14 tahun di Penajam Paser Utara, Kaltim, juga mengakhiri hidup dan polisi masih menyelidiki dugaan perundungan.

Di hari yang sama, seorang anak perempuan 12 tahun di Demak, Jateng, mengakhiri hidup, sementara pada 16 Februari seorang siswi SMA 17 tahun di Flores Timur, NTT, juga mengakhiri hidup di rumahnya. Polisi masih melakukan penyelidikan atas kasus-kasus tersebut.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka