Iran Mau Kesepakatan Nuklir Baru Lebih Sederhana

waktu baca 2 menit

Moskow (KABARIN) - Pemerintah Iran berharap kesepakatan nuklir baru dengan Amerika Serikat (AS) dapat dibuat lebih sederhana dibandingkan perjanjian sebelumnya, yakni Rencana Aksi Komprehensif Bersama atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tahun 2015.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kesepakatan baru idealnya hanya berfokus pada dua poin utama, yaitu pencabutan sanksi terhadap Iran serta jaminan bahwa program nuklir negara tersebut tetap bersifat damai.

“Saya yakin kesepakatan yang lebih baik daripada JCPOA, atau kesepakatan nuklir 2015, adalah mungkin, dan ada unsur-unsur yang bisa jauh lebih baik dibandingkan perjanjian sebelumnya," katanya, Minggu (22/2).

Menurut Araghchi, pendekatan yang terlalu rumit justru tidak diperlukan dalam proses negosiasi saat ini. Ia menilai kesepakatan bisa dicapai dengan menyepakati prinsip-prinsip dasar terlebih dahulu.

"Saya pikir saat ini tidak perlu terlalu banyak rincian. Kita dapat menyepakati hal-hal mendasar dan memastikan bahwa program nuklir Iran bersifat damai dan akan tetap damai selamanya, dan pada saat yang sama lebih banyak sanksi akan dicabut,” kata Araghchi menambahkan.

Meski membuka peluang kompromi, Iran tetap menegaskan tidak akan melepas hak kedaulatannya untuk memperkaya uranium sebagai bagian dari program nuklir nasional.

Araghchi juga menekankan bahwa jalur diplomasi masih menjadi satu-satunya solusi realistis untuk menyelesaikan ketegangan terkait isu nuklir Iran.

“Saya yakin masih ada peluang yang baik untuk mencapai solusi diplomatik yang didasarkan pada prinsip saling menguntungkan, dan solusi itu berada dalam jangkauan kita. Jadi, tidak perlu ada peningkatan kekuatan militer, dan penumpukan militer tidak akan membantu serta tidak dapat menekan kami,” kata Araghchi.

Pernyataan tersebut menunjukkan Iran masih membuka ruang dialog dengan AS di tengah dinamika geopolitik global, sekaligus menegaskan bahwa pendekatan diplomatik dinilai lebih efektif dibandingkan tekanan militer dalam mencapai kesepakatan nuklir baru.

Sumber: Sputnik_OANA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka