Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah Washington dilaporkan memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. Langkah ini dilakukan di tengah dinamika negosiasi nuklir dan meningkatnya tekanan geopolitik di wilayah tersebut.
Menurut laporan Financial Times, Amerika Serikat telah menghimpun kekuatan militer besar yang terdiri dari 16 kapal perang dengan sekitar 40.000 personel militer. Selain itu, AS juga mengerahkan tujuh skuadron udara yang masing-masing berisi sekitar 70 pesawat tempur.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa lima skuadron udara telah ditempatkan di sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, yakni di Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Sementara itu, dua skuadron tambahan berbasis di kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford, demikian tulis Financial Times.
Mengutip data dari Universitas Tel Aviv, media tersebut melaporkan bahwa di Pangkalan Militer Muwaffaq Salti di Yordania sudah terdapat 66 jet tempur AS. Armada udara tersebut terdiri dari berbagai jenis pesawat tempur, termasuk 18 jet tempur F-35 dan 17 unit jet tempur F-15.
Selain itu, terdapat pula delapan pesawat A-10, pesawat peperangan elektronik EA-18, serta sejumlah pesawat pengangkut militer.
Data citra satelit juga menunjukkan peningkatan jumlah jet tempur AS yang ditempatkan di pangkalan militernya di Arab Saudi, menandakan eskalasi kesiapan militer di kawasan tersebut.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa sebuah "armada besar" tengah berlayar ke Iran, sembari mengharapkan Iran setuju merundingkan kesepakatan yang adil dan mencakup penghapusan total senjata nuklir.
Di sisi lain, Iran tetap mempertahankan sikap tegas terkait program nuklirnya. Pada 8 Februari, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran harus tetap memiliki haknya memperkaya uranium, bahkan jika hal tersebut harus berujung pada perang.
Situasi ini menunjukkan bahwa tensi politik dan militer antara kedua negara masih tinggi, dengan diplomasi dan kekuatan militer berjalan beriringan di tengah upaya mencari solusi jangka panjang.
Sumber: Sputnik_OANA