Jakarta (KABARIN) - Rupiah kembali menunjukkan pelemahan seiring data ekonomi dan manufaktur Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan, menurut analis Doo Financial Futures Lukman Leong.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang rebound setelah data menunjukkan aktivitas ekonomi dan manufaktur AS yang lebih kuat dari perkiraan,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Indeks Dallas Fed Manufacturing AS tercatat naik ke 0,2 dari sebelumnya -1,2, sementara data Chicago National mencapai 0,18 poin, lebih tinggi dibandingkan -0,21 sebelumnya.
Meski begitu, pelemahan rupiah diperkirakan terbatas karena masih ada ketidakpastian soal tarif yang menahan laju dolar AS.
“Trump berbalik mengancam 15 persen tarif global yang merata, non resiprokal yang dianulir MA (Mahkamah Agung),” jelas Lukman.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan ancaman itu setelah Mahkamah Agung pekan lalu membatalkan dasar hukum tarif impor karena konstitusi menetapkan wewenang berada di tangan Kongres.
Trump menyebut keputusan itu "memalukan", tetapi ia menilai MA memberinya kewenangan lebih besar dan menolak perlu restu legislatif untuk kebijakan tarif impor.
Dengan situasi tersebut, rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar.
Sumber: ANTARA