Penderita Hipertensi Tetap Boleh Makan Daging Kurban, Asal Begini

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Penderita hipertensi ternyata masih boleh menikmati olahan daging kurban saat Idul Adha. Namun, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan agar konsumsi daging tetap aman untuk kesehatan.

Dokter spesialis gizi klinik lulusan Universitas Indonesia, Pande Putu Agus Mahendra, mengatakan konsumsi daging sapi maupun kambing tetap diperbolehkan selama porsinya tidak berlebihan.

“Untuk batasan tiap individu terdapat batasan masing-masing, tapi jika berdasarkan ukuran umum adalah 75-100g/porsi adalah batasan yang dianggap aman untuk konsumsi asupan hewani,” kata Pande kepada ANTARA, Selasa.

Menurutnya, konsumsi protein hewani seperti daging sebaiknya diimbangi dengan makanan tinggi antioksidan, terutama bagi penderita penyakit metabolik seperti hipertensi.

Beberapa sumber antioksidan yang disarankan antara lain sayuran seperti tomat, lobak, wortel, hingga bawang-bawangan.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga asupan air putih dan tidak makan berlebihan agar kadar kolesterol tubuh tetap terkontrol.

Dalam hal pengolahan daging, Pande menyarankan agar masyarakat menghindari konsumsi bagian lemak dan jeroan. Ia juga meminta agar daging tidak dimasak dengan cara dibakar langsung di atas api.

“Menghindari bagian dari lemak serta konsumsi organ dalamnya dan hindari pengolahan dengan dibakar langsung terpapar api, karena hal tersebut akan merusak komponen protein dari daging tersebut dan menjadi suatu komponen yang dapat mengganggu kesehatan tubuh,” katanya.

Tak hanya soal daging, Pande juga menyoroti kebiasaan mengonsumsi makanan bersantan saat Idul Adha. Menurutnya, banyak santan instan saat ini memiliki kandungan natrium cukup tinggi yang kurang baik bila dikonsumsi terus-menerus.

Ia mengingatkan makanan bersantan sebaiknya tidak disantap berhari-hari karena dapat meningkatkan asupan lemak dan memengaruhi kadar kolesterol dalam tubuh.

Selain itu, kebiasaan memanaskan ulang makanan bersantan juga dinilai kurang baik karena proses pemanasan berulang bisa merusak kandungan lemak nabati dalam santan.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka