D-8 Dinilai Buka Ruang Suara untuk Negara Berkembang

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Pengamat hubungan internasional Andrea Abdul Rahman Azzqy menilai organisasi Developing Eight atau D-8 masih punya peran penting secara ekonomi karena memberi kesempatan negara-negara berkembang menyuarakan kepentingannya.

D-8 sendiri terdiri dari Indonesia, Bangladesh, Mesir, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, Turki, dan Azerbaijan, yang resmi bergabung pada Desember 2024.

"Jadi, relevansi D-8 itu bukan di ukuran dari negara-negara, tapi ini memberikan ruang kemampuan bagi negara-negara berkembang untuk bersuara," kata Andrea, Jakarta, Rabu.

Selain mendorong kerja sama ekonomi secara umum, D-8 juga fokus pada perdagangan yang inklusif di bidang pangan, energi, dan teknologi. Andrea menekankan, meski skala D-8 lebih kecil dibanding G20 atau WTO, organisasi ini memberi anggota ruang untuk mengekspresikan kepentingan tanpa tekanan dari negara maju.

D-8 juga dianggap lebih inklusif dan berbasis solidaritas ekonomi, membahas isu yang jarang disentuh forum global seperti ketahanan pangan, pembiayaan pembangunan menengah sampai mikro, dan transfer teknologi. Organisasi ini dinilai bisa mengonsolidasikan agenda bersama untuk meningkatkan posisi tawar dalam negosiasi internasional.

Peluang terbesar D-8 menurut Andrea adalah memperluas kerja sama perdagangan antaranggota dan mengembangkan mekanisme pembiayaan alternatif di luar dominasi dolar.

Kerja sama riset dan inovasi juga diyakini bisa mendorong model ekonomi yang menguntungkan bagi negara-negara anggota.

D-8 mewakili sekitar 1,3 miliar penduduk dunia dengan total produk domestik bruto kolektif sekitar 5,1 triliun dolar AS serta nilai perdagangan intra-D-8 mencapai 157 miliar dolar AS.

Dengan jangkauan geografis dari Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengah, sampai Afrika, D-8 semakin strategis sebagai blok ekonomi penyeimbang sekaligus penggerak kerja sama Selatan-Selatan.

Sebagai puncak keketuaan, Indonesia akan menjadi tuan rumah KTT ke-12 D-8 di Jakarta pada April 2026. Sebelum KTT, akan digelar pertemuan pejabat tinggi dan menteri luar negeri. KTT tersebut mengangkat tema “Menavigasi Pergeseran Global: Memperkuat Kesetaraan, Solidaritas, dan Kerja Sama untuk Kemakmuran Bersama”.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka