Kenapa Orang Bisa Tiba-tiba Brutal? Ini Penjelasan Psikolog UGM

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Dua kasus pembacokan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir memicu pertanyaan besar di masyarakat: bagaimana seseorang bisa kehilangan kendali hingga melakukan tindakan kekerasan.

Menurut Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si, Ph.D., Psikolog, secara biologis manusia memang memiliki sistem di otak yang mengatur respons emosi.

Ia menjelaskan bahwa ada dua bagian otak yang berperan penting, yaitu amigdala dan prefrontal cortex.

“Amigdala adalah pusat emosi dasar seperti takut dan marah. Ketika seseorang merasa terancam atau tertekan, bagian ini bisa mendominasi dan memicu respons instingtif seperti menyerang, lari, diam, atau mengikuti,” ujar Novi ketika dihubungi pada Kamis.

Namun di sisi lain, manusia juga memiliki prefrontal cortex, yaitu bagian otak yang berfungsi untuk berpikir secara rasional, membuat keputusan, serta mengontrol emosi dan perilaku.

“Kalau prefrontal cortex tidak terlatih atau tidak optimal, seseorang cenderung merespons secara impulsif. Di situ kekerasan bisa terjadi karena emosi lebih dominan daripada akal,” katanya.

Dosen yang meraih gelar Ph.D. dari The University of Melbourne itu menilai kemampuan mengatur emosi yang lemah bisa dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya adalah pola pendidikan yang kurang memberi ruang dialog serta budaya yang tidak membiasakan anak berpikir kritis atau menunda respons.

Selain itu, paparan media sosial yang sangat intens juga dinilai ikut memengaruhi cara orang bereaksi. Arus informasi yang cepat sering mendorong orang untuk bereaksi secara instan tanpa sempat berpikir panjang.

Pandangan serupa juga disampaikan psikolog klinis Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog. Ia menyebut tindakan kekerasan sering muncul ketika emosi seseorang sudah terlalu kuat hingga melampaui kemampuan dirinya untuk mengendalikannya.

“Dalam kondisi ini, respons emosional seperti marah atau merasa terancam menjadi sangat dominan dibandingkan kemampuan berpikir rasional. Akibatnya, individu dapat bertindak impulsif sebagai cara melampiaskan ketegangan emosi,” ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.

Ratih juga menambahkan bahwa ada banyak faktor yang dapat membuat seseorang lebih mudah meledak secara emosional. Mulai dari stres berkepanjangan, kelelahan, konflik hubungan, pengalaman kekerasan di masa lalu, hingga penggunaan zat tertentu.

Karena itu, kedua psikolog tersebut menekankan pentingnya kemampuan mengenali dan mengelola emosi sejak dini. Kemampuan ini dinilai menjadi kunci agar seseorang tidak mudah bereaksi secara agresif ketika menghadapi tekanan hidup.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka