Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada awal perdagangan pekan ini. Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Senin, rupiah tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level psikologis Rp17.000.
Berdasarkan data pembukaan pasar, rupiah turun 76 poin atau sekitar 0,45 persen ke posisi Rp17.001 per dolar AS. Angka ini lebih rendah dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp16.925 per dolar AS.
Pelemahan ini membuat rupiah kembali berada di atas angka Rp17.000 per dolar AS, sebuah level yang kerap menjadi perhatian pelaku pasar karena dianggap sebagai batas psikologis penting bagi pergerakan mata uang Indonesia.
Pergerakan rupiah pada awal perdagangan biasanya dipengaruhi oleh berbagai sentimen, baik dari dalam negeri maupun global. Faktor-faktor seperti kondisi ekonomi dunia, kebijakan suku bunga, hingga pergerakan dolar AS di pasar internasional dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, dampaknya bisa dirasakan di berbagai sektor, terutama yang berkaitan dengan impor barang dan kebutuhan bahan baku dari luar negeri. Nilai tukar yang lebih tinggi berarti biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli dolar juga semakin besar.
Meski demikian, pergerakan rupiah masih bisa berubah sepanjang hari seiring aktivitas perdagangan di pasar valuta asing. Pelaku pasar biasanya akan terus mencermati perkembangan ekonomi global maupun kebijakan moneter yang dapat memengaruhi arah pergerakan mata uang.
Dengan kondisi pembukaan yang melemah ini, pasar akan menunggu perkembangan selanjutnya untuk melihat apakah rupiah mampu kembali menguat atau justru terus berada di bawah tekanan terhadap dolar AS.
Sumber: ANTARA