BMKG: Gempa M7,7 di Laut Sulawesi Bukan Berasal dari Zona Megathrust

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang terjadi di Laut Sulawesi pada Senin pagi bukan berasal dari zona megathrust, melainkan dipicu oleh aktivitas subduksi Lempeng Laut Filipina.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan hasil analisis Pusat Gempa Nasional menunjukkan sumber gempa berada pada zona subduksi aktif Laut Filipina.

"Jadi, memang untuk data dari Pusat Gempa Nasional, wilayah Laut Filipina itu sudah tidak masuk lagi dalam zona megathrust, jadi ini adalah zona subduksi," kata Wijayanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Meski tidak berasal dari zona megathrust, BMKG menegaskan gempa berkekuatan besar tersebut tetap mampu memicu deformasi dasar laut yang berpotensi menimbulkan tsunami.

Hingga pukul 08.20 WIB, sejumlah stasiun pemantau mencatat tinggi gelombang tsunami berkisar antara 9 hingga 75 sentimeter di beberapa wilayah, termasuk Desa Tanjung Sidupa di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Desa Talengen di Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Wijayanto mengingatkan bahwa data yang terekam saat ini masih merupakan gelombang fase pertama, sehingga pemantauan terus dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan situasi.

"Kita akan terus memonitor, karena ini adalah masih gelombang yang pertama. Kita tentunya akan terus meng-update kepada rekan-rekan wartawan jikalau ada tercatat di lokasi yang lain," ujarnya.

Selain potensi tsunami, BMKG juga mencatat aktivitas gempa susulan. Hingga pukul 07.40 WIB, sedikitnya lima gempa susulan telah terekam setelah gempa utama yang terjadi pada pukul 06.37 WIB.

Menurut BMKG, grafik kekuatan gempa susulan menunjukkan tren penurunan magnitudo yang cukup signifikan dibandingkan gempa utama.

Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir utara dan timur Indonesia, agar tidak terpengaruh spekulasi mengenai gempa megathrust yang tidak didukung data ilmiah.

Masyarakat diminta tetap mengikuti informasi resmi dan instruksi evakuasi dari BMKG hingga status peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka