Jakarta (KABARIN) - Pelatih Real Madrid Alvaro Arbeloa menyatakan tidak menganggap Spanyol negara rasis setelah insiden nyanyian bernuansa Islamofobia terdengar dalam laga uji coba Spanyol melawan Mesir di Stadion RCDE, Katalunya pada Rabu (1/4).
Teriakan “siapa yang tidak melompat adalah Muslim” menjadi sorotan utama dan kini tengah diselidiki oleh kepolisian Katalunya.
“Saya percaya Spanyol bukan negara rasis. Bila memang demikian, kami akan menghadapi masalah setiap akhir pekan. Kami harus memberantas perilaku-perilaku tertentu yang tidak bisa saya ubah," ujar Arbeloa dalam laman Football Espana pada Jumat.
"Spanyol harus terus berjuang menghapus sikap seperti ini, tetapi kami adalah negara yang hebat dan sangat toleran. Kita tidak boleh menggeneralisasi, tetapi harus terus melawan dengan kekuatan yang sama."
Dalam momen itu, Lamine Yamal yang merupakan seorang Muslim, meninggalkan lapangan sendirian saat rekan-rekannya menyapa suporter setelah pertandingan.
Sehari kemudian, Yamal merilis pernyataan yang menyebut nyanyian tersebut tindakan “tidak dapat ditoleransi” dan “rasis”.
Sepanjang pekan, isu ini menjadi perbincangan hangat. Arbeloa sendiri meminta UEFA mengambil tindakan tegas terhadap pemain Benfica, Gianluca Prestianni atas dugaan pelecehan rasial terhadap Vinicius Junior.
Namun, dia menilai konteks insiden di Spanyol berbeda, meski tetap mengakui perlunya pemberantasan perilaku negatif.
FIFA turut mencermati rangkaian insiden di stadion-stadion Spanyol. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa badan sepak bola dunia itu bisa saja mengalihkan laga final Piala Dunia 2030 ke Maroko.
Piala Dunia 2030 akan digelar di Spanyol, Portugal dan Maroko dengan laga final digelar di Spanyol.
Sumber: ANTARA