Leicester City Tetap Kena Sanksi Pengurangan Enam Poin Usai Banding Ditolak

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Leicester City harus menerima kenyataan pahit setelah upaya banding mereka tidak membuahkan hasil. Klub berjuluk The Foxes itu tetap dijatuhi hukuman pengurangan enam poin akibat pelanggaran aturan keuangan meski sudah mengajukan keberatan.

Sanksi tersebut sebelumnya diputuskan oleh komisi independen pada Februari lalu karena Leicester dianggap melanggar regulasi finansial English Football League atau EFL.

Liga Premier Inggris kemudian menegaskan bahwa keputusan itu sudah final setelah melalui proses banding.

“Keputusan komisi independen yang merekomendasikan pengurangan enam poin terhadap Leicester City Football Club musim ini telah dijatuhkan oleh dewan banding independen,” demikian pernyataan Liga Premier Inggris yang dikutip dari situs resmi pada Rabu 8 April.

Pengurangan poin itu berdampak besar pada posisi Leicester di klasemen Championship. Mereka sempat merosot dari peringkat 17 ke posisi 20 dan kini semakin terpuruk di zona degradasi dengan selisih satu poin dari zona aman, sementara musim hanya menyisakan lima pertandingan.

Kasus ini bermula dari dugaan pelanggaran Aturan Keuntungan dan Stabilitas atau PSR pada musim 2023 2024 ketika Leicester masih berlaga di Championship. Liga Premier Inggris awalnya menangani penyelidikan pada Mei 2025 sebelum akhirnya kasus dialihkan ke EFL setelah klub tersebut terdegradasi.

EFL kemudian menyatakan Leicester bersalah karena melampaui batas aturan keuangan yang ditetapkan.

Dalam pernyataan resminya, pihak klub menyebut kini fokus sepenuhnya diarahkan untuk menyelesaikan sisa musim dan memperjuangkan hasil terbaik di lapangan.

“Dengan kasus ini yang telah berakhir dan lima pertandingan tersisa, seluruh elemen klub sepenuhnya fokus pada laga-laga ke depan dan menentukan nasib musim kami melalui hasil di lapangan. Kami tahu ini adalah periode yang menantang dan kami berterima kasih atas dukungan para suporter,” demikian pernyataan klub.

Leicester sebelumnya juga menyatakan kekecewaan atas keputusan tersebut karena menilai sanksi yang diberikan tidak sebanding dengan pelanggaran yang dituduhkan.

Dalam aturan PSR, klub Premier League tidak diperbolehkan mencatat kerugian lebih dari 105 juta pound sterling dalam periode tiga tahun, dengan penyesuaian batas untuk musim di luar kasta tertinggi.

Leicester sempat berargumen bahwa periode perhitungan seharusnya 36 bulan, bukan 37 bulan, karena adanya keterlambatan laporan keuangan musim 2023 2024. Namun komisi tetap memakai acuan 36 bulan dan menyimpulkan bahwa klub tersebut melewati batas pengeluaran sekitar 20,8 juta pound dari ketentuan 83 juta pound.

Banding kemudian diajukan tak lama setelah keputusan awal keluar, tepatnya kurang dari 24 jam setelah penunjukan Gary Rowett sebagai pelatih sementara hingga akhir musim. Meski begitu, hasilnya tetap tidak mengubah keputusan awal.

Sejak sanksi dijatuhkan, performa Leicester ikut menurun drastis. Mereka hanya mampu meraih satu kemenangan dalam 12 laga terakhir di semua kompetisi dan kini berada dalam situasi sulit untuk menghindari degradasi beruntun.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka