Jakarta (KABARIN) - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah tengah mempersiapkan pembangunan pabrik cairan infus sebagai langkah memperkuat kemandirian sektor kesehatan melalui entitas bisnis barunya, PT Suryavena Farma Indonesia.
Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia Tatat Rahmita Utami mengatakan selama ini Muhammadiyah kuat di sektor kesehatan dan pendidikan, namun masih bergantung pada pihak lain untuk suplai alat kesehatan dan obat-obatan.
“Selama ini Muhammadiyah kuat di sektor kesehatan dan pendidikan. Namun, untuk suplai alat kesehatan dan obat-obatan, masih bergantung pada pihak luar,” kata Tatat dalam peluncuran perusahaan di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan Muhammadiyah saat ini mengelola sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik di seluruh Indonesia, namun belum memiliki industri hulu kesehatan sendiri yang kuat.
Karena itu, Muhammadiyah mulai mendorong produksi mandiri kebutuhan medis, diawali dari cairan infus dengan merek Suryavena.
Selama dua tahun terakhir, produksi masih dilakukan melalui sistem maklon atau kerja sama dengan pihak ketiga, yang dinilai menimbulkan keterbatasan suplai untuk kebutuhan internal yang cukup besar.
Untuk mengatasi hal tersebut, Muhammadiyah berencana membangun pabrik di kawasan Karangploso, Malang, Jawa Timur, yang dikenal sebagai salah satu sentra industri cairan infus nasional.
Lahan seluas sekitar 14 hektare telah disiapkan dan dinyatakan layak berdasarkan hasil uji kelayakan, termasuk kualitas air di lokasi tersebut.
Tatat menargetkan pembangunan dapat dimulai dalam waktu dekat dengan operasional pada akhir 2027 atau awal 2028, dengan kapasitas produksi hingga 15 juta botol per tahun.
Sebagian besar akan memenuhi kebutuhan internal jaringan kesehatan Muhammadiyah, sementara sisanya berpotensi dipasarkan secara umum.
Sumber: ANTARA