Washington (KABARIN) - Korps Garda Revolusi Islam mengaku telah menyerang pangkalan udara milik Amerika Serikat di Kuwait sebagai respons atas serangan udara Washington di dekat Bandara Bandar Abbas, Iran selatan.
Menurut laporan kantor berita Tasnim, IRGC menyebut serangan balasan dilakukan sekitar pukul 04.50 waktu setempat atau sekitar 08.20 WIB, hanya beberapa jam setelah serangan yang disebut dilakukan AS di area sekitar bandara kota pelabuhan tersebut.
"Tanggapan ini adalah peringatan serius agar musuh tahu bahwa agresi tidak akan dibiarkan begitu saja, dan jika diulangi, respons kami akan lebih tegas," kata IRGC, Kamis.
Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak militer AS terkait klaim serangan tersebut.
Sebelumnya, seorang pejabat AS mengatakan kepada Anadolu bahwa pasukan Amerika berhasil menembak jatuh empat drone Iran yang dianggap mengancam di sekitar Selat Hormuz.
Selain itu, AS juga disebut menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang diduga tengah bersiap meluncurkan drone kelima.
"Tindakan-tindakan ini terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata," kata pejabat AS yang identitasnya dirahasiakan.
Serangan terbaru ini terjadi setelah Komando Pusat Amerika Serikat sebelumnya mengonfirmasi serangkaian operasi militer di Iran selatan yang menargetkan lokasi peluncuran rudal dan kapal Iran yang diduga hendak memasang ranjau.
Pemerintah Iran mengecam tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengaku belum puas dengan perkembangan negosiasi antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik.
Ketegangan di Timur Tengah mulai meningkat tajam sejak 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran.
Serangan itu kemudian dibalas Teheran dengan rentetan drone dan rudal yang menghantam sejumlah target di kawasan serta memicu penutupan Selat Hormuz.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, perundingan lanjutan di Islamabad belum berhasil menghasilkan kesepakatan damai permanen.
Trump kemudian memutuskan memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu, tetapi tetap memberlakukan blokade terhadap kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz.
Sumber: Anadolu_OANA