Menlu: Indonesia Perkuat Posisi Global di Tengah Dinamika Geopolitik

waktu baca 3 menit

untuk memastikan bahwa kepentingan nasional kita, bisa terjaga

Jakarta (KABARIN) - Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan Indonesia terus memperkuat perannya dalam hubungan internasional di tengah situasi geopolitik global yang dinamis dan sulit diprediksi.

"Menghadapi situasi global seperti ini, saya kira merupakan sebuah keharusan bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam tata pergaulan dunia dengan prinsip-prinsip yang kita ketahui merupakan tradisi politik luar negeri Indonesia, dengan prinsip-prinsip bebas aktif,' kata Sugiono di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan, kondisi global saat ini bergerak cepat dan kompleks, memicu tekanan terhadap ekonomi dunia, munculnya krisis kemanusiaan di berbagai wilayah, serta fragmentasi dalam tata kelola global.

Dalam situasi tersebut, Indonesia dinilai perlu tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif guna menjaga kepentingan nasional sekaligus berkontribusi pada stabilitas global sesuai amanat konstitusi.

Sugiono mengatakan penguatan posisi Indonesia dilakukan melalui langkah diplomasi yang konkret, terukur, dan berkelanjutan, sejalan dengan prinsip yang telah lama dianut.

Ia juga menyoroti meningkatnya aktivitas diplomasi Indonesia dalam satu setengah tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang ditandai dengan keterlibatan aktif dalam berbagai forum internasional.

"Aktifnya Indonesia di berbagai panggung internasional yang langsung dipimpin oleh Presiden untuk memastikan bahwa kepentingan nasional kita, bisa terjaga, bisa terfasilitasi dengan tidak mengorbankan hubungan dengan tetangga-tetangga kita, baik tetangga dekat, 'immediate' (hubungan langsung), tetangga yang 'intermediate' (hubungan antara/menengah), maupun tetangga yang jauh," kata dia.

Menurutnya, intensitas diplomasi tersebut diarahkan untuk mendorong kepentingan nasional sekaligus berkontribusi dalam menjaga ketertiban dunia.

Dalam upaya itu, Presiden Prabowo melakukan kunjungan ke Moskow, Rusia dan bertemu Presiden Vladimir Putin guna membahas penguatan kerja sama di berbagai sektor, seperti energi alternatif, pertanian, ilmu pengetahuan, teknologi, dan antariksa.

Pertemuan tersebut juga membahas situasi global, khususnya di kawasan Timur Tengah, yang berdampak pada tekanan ekonomi berbagai negara.

Selain itu, Presiden Prabowo melanjutkan lawatan ke Paris dan bertemu Presiden Emmanuel Macron untuk memperkuat hubungan bilateral, termasuk kerja sama di sektor pertahanan, energi, mineral kritis, pendidikan, ekonomi kreatif, infrastruktur, dan transportasi.

Sebelumnya, Presiden juga mengunjungi Jepang dan Korea Selatan yang menghasilkan kesepakatan dagang masing-masing senilai sekitar 23,63 miliar dolar AS dan 10 miliar dolar AS.

"Dari kunjungan tersebut, sekali lagi, kalau kita berbicara mengenai hasil yang konkret, pertama kita lihat intensitas aktifnya diplomasi Indonesia yang dilakukan oleh Presiden. Kemudian juga komitmen-komitmen yang terjadi ataupun dilakukan pada saat kunjungan-kunjungan tersebut," kata Sugiono.

Ia menegaskan, kunjungan luar negeri tersebut bertujuan menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia melalui kerja sama dengan berbagai negara.

Sugiono menambahkan, diplomasi Indonesia saat ini difokuskan pada diplomasi ekonomi, termasuk mendorong investasi berkualitas dan berkelanjutan, salah satunya melalui peran Danantara sebagai kendaraan investasi nasional.

Ke depan, Kementerian Luar Negeri berkomitmen memperkuat kemitraan strategis guna memperluas akses pasar serta menciptakan ekosistem investasi yang produktif dan inklusif.

"Saya kira situasi dunia yang stabil dan tertib merupakan idaman semua manusia di dunia ini, karena tanpa adanya situasi yang stabil tersebut tidak akan mungkin terjadi satu pembangunan ataupun satu upaya dalam rangka meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di semua negara," katanya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka