Ilmuwan China Sukses Kloning Yak, 10 Anak Lahir Sekaligus

waktu baca 2 menit

Lhasa (KABARIN) - Para ilmuwan di China bikin gebrakan baru di dunia sains. Mereka berhasil mengembangkan teknologi kloning yak dengan hasil yang makin stabil, ditandai dengan lahirnya 10 bayi yak hasil kloning secara alami di Daerah Otonom Xizang, China barat daya.

Sepuluh anak yak tersebut terdiri dari tiga yak hitam dan tujuh yak putih. Mereka lahir dalam rentang waktu 25 Maret hingga 5 April di pusat penangkaran dan penelitian yak di wilayah Damxung. Menariknya, semua anak yak ini lahir dengan kondisi sesuai standar dan terus menunjukkan pertumbuhan bobot yang positif.

"Ini menunjukkan teknologi tersebut telah beralih dari kesuksesan sekali waktu menjadi aplikasi skala besar yang stabil," kata Fang Shengguo, yang memimpin tim peneliti dari Universitas Zhejiang, pada konferensi pers di wilayah tersebut.

Keberhasilan ini jadi lanjutan dari pencapaian sebelumnya, ketika yak hasil kloning pertama lahir pada Juli 2025. Yak tersebut kini tumbuh sehat dengan bobot mencapai sekitar 183 kilogram.

Buat kamu yang belum familiar, yak (Bos grunniens) adalah hewan mirip sapi berbulu tebal yang hidup di kawasan dataran tinggi seperti Himalaya dan Tibet. Di wilayah Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, yak bukan cuma hewan ternak biasa, tapi jadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat penggembala dan bagian penting dari ekosistem setempat.

Yang bikin proses kloning yak lebih menantang dibanding sapi biasa adalah kemampuan adaptasi mereka terhadap kondisi ekstrem. Yak punya mekanisme seluler khusus untuk bertahan di lingkungan dengan kadar oksigen rendah dan paparan radiasi ultraviolet tinggi.

Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara peneliti dari institut biologi dataran tinggi regional, pemerintah wilayah Damxung, dan Universitas Zhejiang. Mereka menggabungkan teknologi seleksi genom lengkap dengan kloning sel somatik untuk menghasilkan yak berkualitas.

Langkah ini juga jadi bagian dari strategi besar pengembangan sektor pertanian dan peternakan di dataran tinggi Xizang dalam periode Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030).

Teknologi kloning ini dinilai mampu menjawab tantangan lama, seperti lambatnya proses pemuliaan genetik dan penurunan kualitas yak. Selain itu, inovasi ini juga diharapkan bisa mendukung peningkatan ekonomi lokal sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah dataran tinggi.

Sumber: Xinhua

Bagikan

Mungkin Kamu Suka