Jakarta (KABARIN) - Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti solar CN 51 dan CN 53 merupakan hal yang wajar karena mengikuti dinamika harga di pasar global.
"BBM nonsubsidi harus menyesuaikan dengan kondisi harga di pasaran. Jadi, tidak heran kalau ada kenaikan harga BBM nonsubsidi," ujar Eddy dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan bahwa di luar BBM bersubsidi seperti Pertalite dan solar, harga BBM lainnya memang mengikuti mekanisme pasar. Jika tidak disesuaikan, menurutnya, hal tersebut dapat membebani pemerintah, Pertamina, maupun pelaku usaha lainnya.
"Kalau dibiarkan dengan harga lama, tentu akan menjadi beban bagi Pertamina dan juga APBN. Bagi badan usaha swasta, saya rasa mungkin juga sama," ujar Eddy.
Penyesuaian harga BBM nonsubsidi sendiri kembali dilakukan oleh Pertamina serta sejumlah badan usaha swasta seperti BP Indonesia dan VIVO pada awal Mei 2026.
BP, misalnya, menetapkan harga BP Ultimate Diesel (CN 51) sebesar Rp30.890 per liter, naik dari sebelumnya Rp25.560 per liter pada April 2026. VIVO juga menetapkan harga serupa untuk Primus Plus (CN 51) di level Rp30.890 per liter.
Sementara itu, Pertamina pada 4 Mei 2026 turut menaikkan sejumlah harga BBM di wilayah Jabodetabek, termasuk Pertamax Turbo (RON 98) menjadi Rp19.900 per liter dari sebelumnya Rp19.400 per liter.
Selain itu, Dexlite (CN 51) naik menjadi Rp26.000 per liter dari Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) meningkat menjadi Rp27.900 per liter dari Rp23.900 per liter.
Eddy menegaskan bahwa fluktuasi harga seperti ini merupakan konsekuensi dari sistem pasar, sehingga kenaikan maupun penurunan dapat terjadi sesuai kondisi global.
Ia juga mendorong pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak harga minyak dunia.
"Bagaimanapun, dengan ketergantungan yang masih tinggi terhadap energi fosil, khususnya yang dipengaruhi oleh pasar global, maka setiap gejolak harga minyak dunia akan selalu berpotensi menekan perekonomian kita," kata Eddy.
Selain itu, ia menekankan pentingnya percepatan pengembangan energi terbarukan seperti panas bumi, tenaga surya, angin, dan bioenergi agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi.
Menurutnya, transisi energi juga penting bukan hanya untuk ketahanan ekonomi, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
"Saya yakin dan percaya urgensi mewujudkan ketahanan energi sama pentingnya dengan upaya mewujudkan ketahanan nasional. Transisi energi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan," kata Eddy.
Sumber: ANTARA