Jakarta (KABARIN) - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menekankan pentingnya memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi Z untuk mendorong Jakarta berkembang sebagai kota global yang inklusif sesuai Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024.
"Jakarta kalau mau maju sebagai kota global, inklusif, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024, maka peran Gen Z-nya harus mendapatkan ruang yang maksimal," kata dia di Jakarta, Kamis.
Dalam kesempatan tersebut, Pramono juga menyoroti cara pandang generasi Z terhadap sosok Kartini dan perempuan. Menurutnya, Kartini tidak lagi dipahami sekadar sebagai tokoh sejarah dengan simbol kebaya, melainkan sebagai representasi kebebasan berekspresi dan kemandirian finansial yang melampaui batas konvensional.
Ia menjelaskan, generasi Z memaknai emansipasi sebagai kebebasan memilih jalan hidup secara otentik, baik di sektor teknologi, ekonomi kreatif, maupun melalui advokasi isu sosial di media sosial.
"Mereka adalah generasi yang tidak lagi melihat gender sebagai penghalang, melainkan sebagai spektrum kekuatan berkolaborasi secara setara," kata dia.
Pramono menegaskan masa depan Jakarta sangat ditentukan oleh generasi muda tersebut.
"Kalau bangsa ini mau maju, maka cara mereka memandang dan berpikir itulah yang kemudian kita kasih ruang, kita akomodasi untuk kemajuan kita bersama," ujarnya.
Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2025 Provinsi DKI Jakarta, generasi Z (kelahiran 1997–2012) mencapai 24,12 persen, berada di posisi kedua setelah generasi milenial (1981–1996) sebesar 24,82 persen.
Kedua kelompok tersebut mencakup hampir separuh populasi Jakarta, menunjukkan dominasi penduduk usia produktif. Sementara itu, generasi lain terdiri dari Generasi X sebesar 21,85 persen, Post Gen Z sebesar 17,78 persen, Baby Boomer sebesar 10,72 persen, dan Pre-Boomer sebesar 0,71 persen.
Sumber: ANTARA