Jakarta (KABARIN) - Persalinan kerap digambarkan sebagai pengalaman yang membahagiakan, bermakna, dan memberi kekuatan bagi perempuan. Namun di balik itu, banyak ibu ternyata mengalami proses melahirkan yang menegangkan hingga meninggalkan trauma psikologis.
Melansir dari laman Psychology Today pada Rabu (6/5) waktu setempat, sejumlah kondisi seperti operasi caesar darurat, perdarahan pascamelahirkan, hingga bayi yang harus dirawat di ruang neonatal intensive care unit (NICU) dapat membuat persalinan terasa tidak aman dan membekas secara emosional.
Berbagai penelitian menunjukkan cukup banyak perempuan mengalami persalinan traumatis dan sebagian di antaranya mengalami gejala gangguan stres pascatrauma atau postpartum post-traumatic stress disorder (PTSD). Meski tidak seluruhnya memenuhi diagnosis PTSD, pengalaman tersebut tetap dapat memengaruhi kondisi emosional ibu setelah melahirkan.
Sebagian ibu mengaku terus mengingat kembali momen saat persalinan, merasa cemas menjelang pemeriksaan medis, mati rasa secara emosional, atau merasa berbeda dengan dirinya sendiri setelah melahirkan.
Salah satu hal yang kerap dirasakan paling menyakitkan adalah anggapan bahwa ibu “seharusnya” tetap bersyukur karena bayi lahir dengan sehat. Padahal rasa syukur dan trauma dapat muncul secara bersamaan.
Selain trauma, banyak perempuan juga merasakan kehilangan terhadap proses persalinan yang sebelumnya mereka bayangkan. Selama berbulan-bulan, calon ibu biasanya mempersiapkan berbagai hal terkait persalinan, termasuk membayangkan bagaimana proses melahirkan akan berlangsung dan momen pertama bersama bayi mereka.
Ketika kenyataan tidak berjalan sesuai harapan, muncul rasa duka atas pengalaman yang tidak terjadi seperti yang diinginkan. Kondisi ini sering kali membuat ibu merasa bingung, terlebih ketika rasa kehilangan bercampur dengan cinta terhadap bayi yang baru lahir.
Sebagian perempuan bahkan menyalahkan diri sendiri karena mengalami kesulitan emosional setelah melahirkan atau merasa bersalah karena kecewa terhadap pengalaman persalinannya.
Para ahli menilai perasaan tersebut tidak berarti seorang ibu tidak bersyukur atas kehadiran anaknya, melainkan menunjukkan adanya pengalaman pribadi yang sangat bermakna namun tidak berjalan sesuai harapan.
Trauma persalinan juga dapat memengaruhi ikatan emosional ibu dan bayi. Beberapa perempuan mengaku tetap mencintai bayinya, tetapi pada saat bersamaan merasa mati rasa, terlepas secara emosional, atau tidak seperti dirinya sendiri.
Sebagian ibu merasa bersalah karena kedekatan dengan bayi tidak langsung terbentuk setelah persalinan. Padahal, dari sudut pandang trauma, kondisi tersebut dapat menjadi bentuk respons sistem saraf dalam melindungi diri setelah mengalami tekanan emosional yang berat.
Ikatan antara ibu dan bayi dinilai tidak terbentuk dalam satu momen saja, melainkan berkembang secara bertahap melalui perhatian, perawatan, dan hubungan emosional yang berulang.
Proses pemulihan trauma dinilai tidak selalu terjadi dengan mengabaikan pengalaman buruk atau memaksa diri untuk segera melupakan kejadian tersebut. Pemulihan justru dapat dimulai dengan memberi ruang bagi diri sendiri untuk mengakui pengalaman yang dialami secara jujur.
Hal itu dapat dilakukan dengan berbicara kepada orang terpercaya, menuliskan pengalaman persalinan, bergabung dengan kelompok dukungan, atau menjalani terapi dengan tenaga profesional yang memahami kesehatan mental perinatal.
Pendekatan acceptance and commitment therapy (ACT) memandang pemulihan bukan sebagai upaya menghapus ingatan menyakitkan, melainkan belajar menerima emosi sulit tanpa membiarkan sepenuhnya mendefinisikan diri seseorang.
Perempuan juga dinilai sering dituntut segera menjalankan peran sebagai pengasuh setelah melahirkan, terlepas dari kondisi fisik maupun emosional yang mereka alami. Padahal trauma tidak otomatis hilang ketika seseorang menjadi ibu.
Karena itu, dukungan psikologis bagi ibu yang mengalami trauma persalinan dinilai penting agar mereka memiliki ruang aman untuk memproses pengalaman tanpa merasa dihakimi atau diremehkan.
Sumber: ANTARA