Film The Longest Wait Bawa Mimpi dan Semangat Garuda ke Generasi Muda

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - The Longest Wait, film dokumenter yang merekam perjalanan timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026, menghadirkan kegiatan coaching clinic yang diikuti oleh 45 pesepak bola muda kategori U15 di Stadion ASIOP, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Selasa.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian aktivasi film yang diproduksi Fremantle Indonesia dan Beach House Pictures, sebuah film yang mengajak masyarakat memahami bahwa di balik setiap pencapaian besar selalu ada mimpi, proses, dan pengorbanan yang tidak terlihat dari apa yang kita saksikan di lapangan.

"Jadi ini bukan film tentang sepak bola. Ini film tentang human story kalau saya boleh bilang ya. Sekumpulan brothers, sekumpulan brothers yang berprestasi sehingga mereka dipanggil ke timnas, membentuk sebuah brotherhood yang sangat kuat. Itu yang tidak pernah kelihatan ya selama ini," kata Managing Director of Fremantle Indonesia Sakti Parantean saat ditemui awak media termasuk ANTARA di Stadion ASIOP, Selasa.

Sebagai bagian dari rangkaian coaching clinic, para peserta juga mengikuti sesi talkshow bertema “No Dream is Too Far. No Wait is Too Long” yang menghadirkan Sakti sendiri, pemain timnas Indonesia Egy Maulana Vikri, serta mantan pemain timnas Indonesia Oktovianus “Okto” Maniani.

Melalui diskusi interaktif ini, para peserta diajak memahami bahwa sepak bola tidak hanya tentang apa yang terjadi di lapangan, tetapi juga tentang mimpi, proses, pengorbanan, dan persatuan yang menjadi inti dari perjalanan yang diangkat dalam film The Longest Wait.

Dalam sesi talkshow, Egy dan Okto berbagi pengalaman mengenai perjalanan mereka sebagai bagian dari sepak bola Indonesia, sementara Sakti mengulas bagaimana kisah-kisah tersebut diangkat menjadi sebuah dokumenter.

Bersama-sama, para narasumber membahas mimpi, pengorbanan, persatuan, dan makna mengenakan lambang Garuda di dada, nilai-nilai yang menjadi inti dari film yang rencananya ditayangkan pada Agustus ini.

Salah satu topik yang menjadi sorotan adalah bagaimana para pemain tim Garuda yang berasal dari latar belakang, daerah, dan perjalanan hidup yang berbeda dapat dipersatukan oleh satu tujuan yang sama. Nilai persatuan inilah yang juga menjadi salah satu tema utama yang diangkat dalam The Longest Wait.

Selain membahas perjalanan para pemain, sesi ini juga memperkenalkan The Longest Wait sebagai film dokumenter yang mengajak penonton melihat sisi kehidupan para pemain timnas Indonesia yang jarang tersorot publik.

"Kalau yang saya tunggu (dari film ini), yang saya tahu, saya rasa ekspresif anak-anak ya, kita ketika menang, ketika kalah," kata Egy.

"Ya mudah-mudahan dengan adanya film ini, banyak motivasi-motivasi anak-anak untuk bisa punya mimpi yang besar," ucap Okto.

Melalui pendekatan dokumenter yang intim dan personal, film ini menghadirkan kisah tentang mimpi, tekanan, keraguan, dan pengorbanan yang membentuk perjalanan para pemain hingga mampu membawa lambang Garuda di dada.

Lebih dari sekadar dokumentasi perjalanan timnas Indonesia, film ini mengingatkan bahwa di balik setiap pertandingan, pencapaian, dan momen bersejarah selalu ada proses panjang yang jarang terlihat oleh publik.

Nilai-nilai inilah yang juga ingin dihadirkan melalui kegiatan coaching clinic, sebagai ruang bagi generasi muda untuk belajar langsung dari pengalaman para pemain dan memahami bahwa kesuksesan tidak hanya dibangun di atas lapangan, tetapi juga melalui kerja keras, disiplin, dan ketekunan dalam menjalani proses.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka