Jakarta (KABARIN) - Sutradara Bayu Skak bersama produser eksekutif Sinemart, David Setiawan Suwarto, resmi memperkenalkan film Foufo di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Rabu.
Film yang dijadwalkan tayang pada 9 Juli 2026 itu menghadirkan perpaduan unik antara drama keluarga, budaya lokal Madura, dan unsur fiksi ilmiah.
Film tersebut mengisahkan seorang pemuda bernama Muslim yang diperankan oleh Tretan Muslim. Tokoh itu berjuang mengumpulkan biaya agar sang ibu dapat menunaikan ibadah haji. Kehidupannya kemudian berubah setelah bertemu makhluk luar angkasa yang secara tak terduga mendarat di Madura.
Menurut David Setiawan Suwarto, konsep film ini sejak awal menghadirkan rasa penasaran karena menggabungkan tema yang tidak lazim dalam perfilman Indonesia. Meski sempat dianggap sebagai proyek yang berisiko, ide cerita tersebut justru dinilai memiliki daya tarik tersendiri.
Untuk menjaga keaslian cerita, Skak Studios memilih menggelar audisi terbuka di Surabaya dan menjaring sekitar 2.500 peserta. Dari proses tersebut, terpilih sejumlah pemain, termasuk pendatang baru seperti Siti Kam dan Anggun Dwi.
Para pemain kemudian menjalani karantina selama 45 hari di Jakarta guna membangun kedekatan emosional yang mendukung penggambaran hubungan keluarga dalam film.
Bayu Skak menjelaskan bahwa karakter dalam film menggunakan perpaduan bahasa yang mencerminkan kehidupan masyarakat pesisir Surabaya dan Madura. Bahasa Madura digunakan di lingkungan keluarga, sementara bahasa Jawa dan Indonesia dipakai dalam situasi tertentu.
Dari sisi teknis, "Foufo" juga menghadirkan pendekatan berbeda dalam menampilkan karakter alien. Tim produksi menggunakan kombinasi kostum fisik dan efek visual digital.
Karakter makhluk luar angkasa diperankan secara langsung oleh Bambang "Ceper", sementara ekspresi wajahnya dihasilkan melalui teknologi pelacak wajah yang diisi oleh Ade Bibier Kurniyawan.
Bayu menuturkan metode tersebut dipilih untuk menghemat waktu produksi dibandingkan penggunaan CGI sepenuhnya. Sebanyak 120 animator dari studio animasi Surabaya dilibatkan selama tujuh bulan untuk menyempurnakan tampilan karakter alien tersebut.
Sementara itu, penulis naskah Achmad Faishol mengungkapkan bahwa cerita "Foufo" terinspirasi dari pengalaman pribadinya, terutama hubungan dengan sang ibu serta ketertarikannya terhadap misteri luar angkasa. Unsur emosional tersebut menjadi fondasi utama cerita yang dibalut dengan elemen fiksi ilmiah.
Menjelang penayangannya, tim produksi berharap film ini dapat membuktikan bahwa karya fiksi ilmiah Indonesia tetap bisa mengangkat identitas budaya daerah secara kuat.
Bayu Skak menambahkan bahwa sekitar 70 persen dialog dalam film menggunakan bahasa Madura, sedangkan sisanya memadukan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.
"Di dalam film 'Foufo' ini untuk bahasanya akan menggunakan bahasa Madura kurang lebih ada di 70 persen, dicampur dengan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia," kata Bayu Skak.
Sumber: ANTARA