Madrid (KABARIN) - Gelombang panas yang melanda Spanyol kembali memakan korban jiwa. Dalam beberapa hari pertama Juli, lebih dari 150 orang dilaporkan meninggal dunia akibat suhu ekstrem yang melanda berbagai wilayah di negara tersebut.
Data Sistem Pemantauan Kematian Harian (MoMo) milik Kementerian Kesehatan Spanyol yang dirilis pada Senin (6/7) menunjukkan angka kematian tersebut terjadi ketika Spanyol sedang menghadapi gelombang panas resmi kedua pada musim panas tahun ini.
Sebelumnya, MoMo juga mencatat sekitar 1.029 kematian yang berkaitan dengan cuaca panas sepanjang Juni. Angka itu menjadi jumlah kematian bulanan tertinggi sejak sistem pemantauan tersebut mulai diterapkan pada 2015.
Tak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, suhu panas yang berkepanjangan juga memperburuk risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Spanyol.
Petugas pemadam kebakaran hingga kini masih berupaya menjinakkan beberapa titik api, termasuk kebakaran besar di wilayah La Bisbal d'Emporda. Kebakaran tersebut telah melalap sekitar 2.200 hektare kawasan lindung Les Gavarres dengan perimeter api yang membentang hingga sekitar 40 kilometer.
Sementara itu, berdasarkan perkiraan berbasis satelit dari European Forest Fire Information System (EFFIS), sekitar 56.000 hektare lahan di Spanyol telah hangus terbakar sejak awal 2026.
Gelombang panas yang terus berlangsung membuat pemerintah dan otoritas setempat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca ekstrem, baik dari sisi kesehatan masyarakat maupun potensi meluasnya kebakaran hutan yang dipicu suhu tinggi dan kondisi lahan yang semakin kering.
Baca juga: Gelombang Panas Tewaskan Hampir 9.000 Orang di Prancis Selama Juni
Sumber: Xinhua