Banjir bandang Sumut: Korban tewas jadi 166, operasi SAR dikebut siang-malam

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Utara terus bertambah. Hingga Sabtu (29/11), BNPB mencatat 166 warga telah meninggal, sementara 143 orang lainnya masih hilang dan terus dicari oleh tim penyelamat.

Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan bahwa lonjakan data korban terjadi seiring semakin intensifnya operasi pencarian yang dipimpin Basarnas sejak status tanggap darurat diberlakukan pekan ini.

“Dalam satu hari ini bertambah 60 korban jiwa berkat operasi pencarian tim gabungan,” ujar Suharyanto.

Tapanuli Tengah dan Selatan terparah

Wilayah yang paling terdampak meliputi Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga. Ribuan kepala keluarga kini mengungsi di berbagai lokasi, termasuk Mandailing Natal, Tapanuli Utara, hingga Humbang Hasundutan.

Pendataan masih dilakukan bersamaan dengan operasi SAR yang berjalan nonstop 24 jam.

Akses daerah terisolir mulai dibuka

BNPB memastikan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi terus dipercepat. Pembukaan akses ke wilayah terisolir dan distribusi logistik kini menjadi prioritas.

Untuk mempercepat bantuan, BNPB menempatkan lima helikopter perbantuan di Bandara Silangit. Sejumlah armada udara seperti Helikopter TNI AD Bell 412EPI, MI-17V5, helikopter swasta, serta Cessna Caravan ikut dikerahkan menuju zona sulit seperti Tapanuli Tengah dan Mandailing Natal.

Operasi SAR di Sumut direncanakan berlangsung intensif hingga seluruh korban hilang berhasil ditemukan dan kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak dapat terpenuhi.

Bagikan

Mungkin Kamu Suka