Jalur Sibolga masih lumpuh total, BNPB kerja ekstra buka akses dan salurkan bantuan

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Utara kembali menimbulkan dampak besar, terutama pada sektor transportasi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa sejumlah jalur vital di wilayah terdampak mengalami kerusakan berat, membuat beberapa daerah nyaris terisolasi total.

Salah satu akses yang paling terdampak adalah jalur nasional Sibolga–Padang Sidempuan dan Sibolga–Tarutung, yang tertimbun material longsor hingga tidak dapat dilalui kendaraan. Situasi ini membuat mobilitas bantuan dan evakuasi warga harus dilakukan dengan cara yang lebih ekstrem.

“Kami sudah mulai membuka jalur Sibolga–Padang Sidempuan sejak sore ini dan akan terus dilanjutkan,” ujar Kepala BNPB Suharyanto dalam keterangan resmi, Minggu.

Jembatan putus, desa terisolasi

Selain akses utama, sejumlah infrastruktur lain juga terkena imbas. Beberapa jembatan di Sibolga dan Tapanuli Tengah terputus, seperti Jembatan Pandan dan jembatan di ruas Sibolga–Manduamas. Kondisi tersebut membuat perjalanan darat semakin terhambat.

Di Mandailing Natal, setidaknya tujuh wilayah masih terisolasi. Sebagian desa bahkan hanya bisa dijangkau melalui penerbangan helikopter atau setelah alat berat berhasil membersihkan titik longsor.

Armada Udara dikerahkan salurkan bantuan

Untuk mempercepat penyaluran bantuan, BNPB mengerahkan lima helikopter perbantuan yang ditempatkan di Bandara Silangit, Tapanuli Tengah. Armada ini meliputi:

  • Helikopter BNPB
  • Bell 412EPI TNI AD
  • MI-17V5
  • Helikopter swasta
  • Pesawat Cessna Caravan untuk mobilisasi cepat

“Sibolga sebenarnya sudah bisa dijangkau lewat udara untuk distribusi logistik, meskipun jalur darat belum tembus,” kata Suharyanto.

Operasi SAR dan perbaikan akses paralel

Pembukaan akses dilakukan bersamaan dengan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) yang berlangsung 24 jam. Tim gabungan terus bekerja di titik-titik kritis untuk memastikan bantuan bisa sampai dan evakuasi korban dapat dilakukan secepat mungkin.

Dengan medan yang menantang serta cuaca yang terus berubah, proses pembukaan akses ini diperkirakan membutuhkan waktu panjang dan tenaga yang besar.

Bagikan

Mungkin Kamu Suka