Update bencana Sumatera: Ratusan korban, akses terputus, BNPB kerahkan helikopter

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama tim gabungan terus bekerja tanpa henti untuk mempercepat penanganan banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat.

Fokus utama mereka tetap sama: menyelamatkan korban, membuka akses wilayah terisolasi, hingga memenuhi kebutuhan dasar puluhan ribu pengungsi.

Kepala BNPB, Suharyanto, dalam keterangan yang dirilis di Jakarta, Minggu, menjelaskan bahwa upaya pencarian dan pertolongan (SAR) masih menjadi prioritas utama, dibarengi dengan percepatan distribusi logistik melalui jalur darat dan udara.

Hingga hari ketiga status tanggap darurat di Sumatera Utara, BNPB mencatat 166 korban meninggal dunia dan 143 orang masih hilang. “Dalam satu hari saja, tim gabungan menemukan tambahan 60 korban berkat operasi pencarian intensif,” ujar Suharyanto.

Sementara itu, kondisi di Aceh juga sangat memprihatinkan. Memasuki hari kedua tanggap darurat, terdapat 47 korban meninggal dunia, 51 orang hilang, dan 8 orang luka-luka. Jumlah pengungsi pun melonjak hingga 48.887 kepala keluarga, dengan angka tertinggi di Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil.

Di Sumatera Barat, dua hari setelah status tanggap darurat ditetapkan, tercatat 90 korban meninggal dunia, 85 orang hilang, dan 10 orang luka-luka. Wilayah dengan dampak terbesar adalah Kabupaten Agam. Jumlah pengungsi sementara mencapai 77.918 jiwa, berpusat di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Untuk mempercepat bantuan, BNPB mengerahkan berbagai alutsista, termasuk helikopter untuk menjangkau wilayah yang masih terisolasi. Selain itu, jaringan komunikasi darurat berbasis satelit Starlink kini diaktifkan di sejumlah titik sebagai solusi atas putusnya jaringan telekomunikasi.

“Seluruh proses penanganan darurat terus dipercepat melalui koordinasi erat dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, dan para relawan. Percepatan pembukaan akses, pendataan korban, dan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak menjadi prioritas utama,” tegas Suharyanto.

Bagikan

Mungkin Kamu Suka